Makanan & Nutrisi

Anak Susah Makan, Apa yang Sebenarnya Membantu

Biarkan tiga makanan andalannya tetap di piring, lalu taruh makanan baru di sebelahnya dalam porsi kecil yang gampang diabaikan. IDAI menyebut angkanya 10 sampai 15 kali percobaan sebelum penolakan anak berarti apa-apa, dan waktu makan diakhiri di menit ke 30 berapa pun sisanya. Paksaan, sayur yang disembunyikan, dan iming-iming makanan manis sama-sama mengulang hitungan itu dari nol.

Anak Susah Makan, Apa yang Sebenarnya Membantu

Kenapa anak yang dulu makan apa saja sekarang cuma mau itu-itu?

Nggak ada yang salah dengan anak Mams, dan waktu kejadiannya justru jadi petunjuk paling jelas. IDAI menggambarkan anak seperti ini sebagai anak yang sebenarnya mau makan berbagai jenis makanan, baik yang sudah dikenal maupun yang belum, tapi menolak memakannya dalam jumlah yang cukup.

Puncaknya ada di rentang usia satu sampai tiga tahun. Di rentang itu juga anak baru menyadari bahwa makanan termasuk sedikit hal yang boleh dia tolak. Daftar makanannya menyusut karena menolak terasa baru dan ternyata berhasil, bukan karena tubuhnya berhenti membutuhkan makanan yang lain.

Yang bertahan setelah puncak tersebut adalah daftar makanannya, bukan drama di meja makan. Anak yang berat badannya naik, tenaganya cukup sampai sore, dan makan tiga jenis makanan dengan konsisten berada di situasi yang berbeda dari anak yang berat badannya turun. Sisa artikel ini memisahkan dua situasi tersebut.

Kapan kondisi ini perlu dibawa ke dokter, bukan ditunggu?

Ada beberapa tanda yang membuat kondisi ini keluar dari kategori pilih-pilih makanan. IDAI meminta orang tua segera ke dokter kalau anak sering batuk atau tersedak saat makan, kesulitan menelan atau muntah berulang, terlihat lemas atau sesak saat makan maupun menyusu, terlihat kesakitan saat makan, mengalami diare berdarah atau berkepanjangan, atau berat badannya tidak naik-naik.

Satu tanda saja sudah cukup. Mams nggak perlu menunggu tanda kedua muncul sebelum membawa anak ke dokter.

Daftar tersebut bukan skor yang perlu dikumpulkan, dan tidak satu pun berkaitan dengan seberapa sempit daftar makanannya. Daftar yang pendek pada anak yang tumbuh dengan baik adalah masalah yang berbeda dari anak yang kesulitan pada mekanisme makannya.

Berat badan justru perlu diukur, bukan dikira-kira. Ukurannya gampang meleset kalau cuma ditaksir di rumah, dan hal tersebut jadi alasan grafik pertumbuhan di Posyandu atau Puskesmas layak dipakai sesuai jadwal yang sudah diberikan.

Taruh makanan baru di sebelah makanan aman, bukan menggantikannya

Makanan yang sudah aman tetap ada di piring. Ambil salah satu dari tiga makanan yang memang dia makan, sajikan seperti biasa, lalu letakkan makanan baru di sebelahnya dalam porsi yang kecil banget sehingga meninggalkannya nggak terasa berat.

Feeding rules dari IDAI memang meminta porsi kecil, makanan utama dulu sebelum minum, dan anak didorong untuk makan sendiri. Satu sendok sayur di pinggir piring yang sudah berisi nasi dan telur jauh lebih mudah dipandang dibanding piring yang isinya diganti total.

Sebaiknya makanan itu nggak dikomentari sama sekali. Jangan disebut namanya, jangan ditunjuk, dan jangan ada reaksi waktu makanannya kembali utuh, karena begitu jadi topik, makanan tersebut berubah jadi keputusan yang harus dia pertahankan.

Yang justru mempercepat prosesnya adalah membiarkan anak memegang bahan makanannya di luar jam makan. Biarkan dia mencuci, menyobek, membawanya ke meja, atau menaruhnya sendiri di piring, supaya makanan itu berhenti terasa seperti sesuatu yang tiba-tiba muncul di depannya.

Kelas yang mengajak anak memasak dan memegang bahan makanan sendiri bekerja dengan cara yang sama. Coba deh cek activity finder untuk melihat kelas yang jalan di dekat rumah Mams.

Berapa kali harus ditawarkan sebelum penolakannya benar-benar berarti tidak?

Jauh lebih banyak dari yang biasanya sanggup kita lakukan. IDAI meminta orang tua menyajikan makanan baru di depan anak sebanyak 10 sampai 15 kali sebelum penolakan tersebut dianggap final, dan panduan Kemenkes soal sayur dan buah menyebut satu jenis saja bisa butuh lebih dari 10 kali percobaan dengan jeda sekitar seminggu di antaranya.

Jadi hitungannya memang nggak enak didengar. Kalau brokoli sudah disajikan tiga kali lalu Mams menyimpulkan anak nggak makan brokoli, percobaannya belum selesai, baru jalan seperlima.

Catat hitungannya, karena ingatan nggak bisa diandalkan untuk hal ini. Dua atau tiga percobaan terasa banyak banget kalau setiap percobaannya berakhir dengan penolakan, dan jarak antara rasa itu dengan hitungan sebenarnya yang bikin kebanyakan orang tua berhenti terlalu cepat.

Dua trik yang justru bikin daftar makanannya bertahan di tiga

Menyembunyikan sayur di dalam saus adalah yang pertama. Cara tersebut memang berhasil memasukkan gizi malam ini, tapi sekaligus menghapus hal yang jadi dasar hitungan di bagian sebelumnya, karena anak yang nggak pernah melihat, mencium, atau memegang sayurnya belum benar-benar mencoba sayur, dia baru mencoba sausnya.

Ada biaya kedua kalau sampai ketahuan. Anak yang menemukan sesuatu terselip di makanan yang selama ini dia percaya jadi punya alasan untuk memeriksa semuanya, dan daftar makanan amannya malah makin pendek, bukan makin panjang.

Tawar-menawar dengan makanan manis adalah yang kedua, dan ini yang paling mahal. Feeding rules IDAI menyebut dengan jelas bahwa makanan tidak pernah diberikan sebagai hadiah, dan Kemenkes mencatat anak yang terbiasa dengan makanan berasa sangat manis, gurih, atau asin justru jadi kurang menyukai rasa dan aroma alami makanan, terutama sayur dan buah.

Kalau dua hal itu dibaca bersamaan, pertukarannya langsung kelihatan. Tiga sendok wortel demi satu biskuit mengajarkan anak bahwa wortel adalah harganya dan biskuit adalah hadiahnya, sambil melatih lidahnya ke arah rasa yang bikin wortel makin susah diterima minggu depan.

Apa yang Mama Papa lakukan di meja makan saat anak menolak?

Mama Papa justru perlu mengakhirinya, dengan tenang dan lebih cepat. Aturan IDAI memasang batas keras 30 menit untuk satu waktu makan dan menyebut bahwa begitu anak menolak selama 10 sampai 15 menit, makannya diakhiri, bukan diperpanjang sampai ada yang mengalah.

Sebelum sampai ke titik tersebut, langkahnya adalah menawarkan lagi makanan itu secara netral, tanpa membujuk dan tanpa memaksa. Tidak ada negosiasi, tidak ada pesawat-pesawatan, tidak ada hitungan sampai tiga, dan tidak ada yang menyala di meja, karena aturan yang sama meminta tidak ada mainan, televisi, atau perangkat permainan saat anak makan.

Setelah itu, Mama Papa bisa mengangkat piringnya tanpa komentar. Sebaiknya jangan menawarkan pengganti, jangan mengungkit apa yang tersisa, dan jangan membawanya jadi bahan pembicaraan, karena di jam makan berikutnya hitungan percobaannya dilanjutkan dan hasilnya lebih baik kalau anak datang tanpa membawa pertengkaran.

Susu jadi pengecualian yang diam-diam perlu diperhatikan. Anak yang kenyang oleh susu di antara jam makan datang ke meja tanpa rasa lapar, dan penolakan yang muncul setelahnya kelihatan seperti pilih-pilih makanan padahal anaknya memang belum lapar.

Paksaan bukanlah dorongan versi lebih kuat, melainkan salah satu penyebabnya

Bagian ini yang biasanya paling bikin nyesek. IDAI menyebut penyebab tersering anak batita menutup mulut di jam makan adalah inappropriate feeding practice, yaitu bagaimana dan apa yang diberikan ke anak, bukan ada sesuatu yang salah pada anaknya.

Feeding rules-nya menyampaikan hal yang sama dari arah sebaliknya dengan meminta lingkungan makan yang menyenangkan dan tanpa paksaan sama sekali. Paksaan bukanlah versi yang lebih kuat dari dorongan, melainkan hal terpisah yang memang dikeluarkan dari panduan tersebut.

Artinya, usaha yang selama ini dilakukan sering justru jadi masalahnya. Kalau Mams sudah diminta terus menawarkan tapi hasilnya makin buruk, coba deh periksa apakah menawarkan itu diam-diam sudah berubah jadi memaksa, karena versi itulah yang membuat daftar makanannya bertahan di tiga.

Sisanya memang permainan panjang. Anak yang makan tiga jenis makanan biasanya sedang dalam perjalanan menuju yang keempat, dan jalur tercepatnya adalah porsi kecil makanan itu di sebelah makanan amannya, ditawarkan tanpa komentar, lebih lama dari yang terasa masuk akal.

Semua itu berlaku untuk anak yang tumbuh dengan baik, dan tanda-tanda di bagian awal artikel ini yang mengubah jawaban tersebut. Kalau Mams memang sedang memantau apa lagi yang seharusnya muncul di usia ini, milestone tracker mencakup sisi perkembangannya.

Pertanyaan Umum

Berapa kali makanan baru harus ditawarkan sebelum menyerah?+
IDAI menyebut 10 sampai 15 kali percobaan. Penolakan biasanya sudah dianggap final setelah dua atau tiga kali, dan itu sebabnya makanan tersebut tidak pernah diterima, jadi catat hitungannya daripada mengandalkan rasa setelah beberapa percobaan terakhir.
Normal nggak sih anak usia dua tahun cuma mau makan beberapa jenis makanan?+
Justru di usia itu biasanya muncul. IDAI menempatkan puncaknya di rentang usia satu sampai tiga tahun, dan menggambarkannya sebagai anak yang sebenarnya mau makan berbagai jenis makanan tapi tidak dalam jumlah yang cukup, bukan anak yang tidak bisa makan.
Boleh nggak menyembunyikan sayur di makanan anak?+
Cara itu memberi gizi malam ini tapi menghilangkan kesempatan anak mengenal sayurnya. Anak yang tidak pernah melihat atau memegang sayur tersebut belum benar-benar mencoba, dan kalau nanti ketahuan, makanan yang tadinya dipercaya berubah jadi sesuatu yang perlu diperiksa.
Berapa lama waktu makan kalau anak menolak makan?+
Maksimal 30 menit, dan IDAI menyebut makannya diakhiri begitu anak menolak selama 10 sampai 15 menit. Angkat piringnya tanpa komentar dan jangan menawarkan makanan pengganti.

Artikel Terkait

Ide Bekal Anak Sekolah yang Beneran Habis Dimakan
Makanan Ulang Tahun Anak, Goodie Bag, dan Sisa Minggu Setelahnya
Rasa Lapar Jam 4 Sore: Camilan Sehat Anak Sepulang Sekolah yang Nggak Bikin Makan Malam Ditolak

Temukan Aktivitas Anak Terbaik

Temukan, bandingkan, dan pesan aktivitas terbaik untuk anak Anda di 100+ kota di Indonesia.

Unduh Aplikasi