Cara Menulis Laporan Perkembangan Anak yang Benar-Benar Dibaca Orang Tua
Laporan perkembangan yang benar-benar dibaca orang tua menyebutkan kemampuan yang sudah dikuasai anak, menyajikan buktinya, menjelaskan capaian yang belum muncul beserta rencana Anda untuk menstimulasinya, lalu meminta satu tindakan konkret dari orang tua di rumah. Panduan resmi di Indonesia mewajibkan keempatnya untuk setiap elemen capaian pembelajaran. Sebagian besar laporan baru memenuhi poin pertama.
Secara hukum, laporan perkembangan adalah sebuah umpan balik
Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Permendikbudristek) Nomor 21 Tahun 2022 merupakan standar penilaian untuk pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah di Indonesia. Pasal 2 ayat (4) mendefinisikan penilaian yang edukatif sebagai penilaian yang hasilnya digunakan sebagai umpan balik bagi Pendidik, Peserta Didik, dan orang tua, sehingga proses mengajar dan proses belajar sama-sama membaik.
Ketika Anda membaca rumusan tersebut sebagai sebuah spesifikasi, hal yang sedang Anda tulis pun ikut berubah. Laporan yang hanya mencatat apa yang telah terjadi sekadar menjadi arsip catatan. Laporan yang memberi orang tua sesuatu untuk ditindaklanjuti, itulah yang dimaksud oleh peraturan tersebut.
Pasal yang sama juga menetapkan standar untuk isi tulisannya. Pasal 2 ayat (3) menyebutkan penilaian yang objektif adalah penilaian yang didasarkan pada informasi faktual atas pencapaian perkembangan atau hasil belajar anak. Yang diminta adalah informasi faktual tentang anak, bukan kesan subjektif terhadap anak.
Cakupan pihak yang terikat aturan ini lebih luas daripada dugaan sebagian besar pengelola. Pasal 1 angka 5 mendefinisikan Satuan Pendidikan sebagai setiap layanan pendidikan pada jalur formal maupun nonformal di jenjang anak usia dini, dasar, dan menengah, sehingga KB, TPA, dan SPS termasuk di dalamnya bersama TK.
Pasal 1 angka 4 mendefinisikan Pendidik yang mencakup guru, fasilitator pembelajar, tutor, dan instruktur. Sekolah musik atau sekolah renang yang berada di luar cakupan tersebut sama sekali tidak memiliki kewajiban hukum di sini. Justru karena itulah dokumen yang sama layak ditiru, sebab dokumen ini merupakan gambaran nasional paling jelas tentang fungsi laporan untuk orang tua, dan tidak ada yang melarang sanggar atau sekolah renang menggunakannya.
Apa saja yang sebenarnya wajib dimuat dalam laporan hasil belajar?
Batas minimal menurut hukum terbilang singkat. Pasal 8 ayat (3) menyebutkan laporan tersebut paling sedikit memuat informasi mengenai pencapaian hasil belajar Peserta Didik.
Untuk jenjang anak usia dini ada satu tambahan, yaitu Pasal 8 ayat (4) yang mewajibkan laporan PAUD juga memuat informasi mengenai pertumbuhan dan perkembangan anak. Pertumbuhan dan perkembangan berdiri berdampingan dengan hasil belajar, bukan menggantikannya.
Satu hal yang tidak dilakukan peraturan tersebut adalah template. Pasal 8 ayat (5) menyatakan laporan berbentuk rapor atau bentuk laporan hasil penilaian lainnya, yang berarti menjadi wadahnya menjadi keputusan Anda. Pasal 7 kemudian membolehkan hasil penilaian diolah secara kuantitatif dan/atau kualitatif, yang menghasilkan angka dan/atau deskripsi.
Deskripsi tertulis bukanlah alternatif yang lebih ringan dibanding skor. Keduanya disebut dalam klausul yang sama.
Klausul yang paling sering terlewat oleh pengelola adalah Pasal 9. Ayat (2) menempatkan penilaian formatif di semua jenjang, termasuk jenjang anak usia dini. Ayat (3) menempatkan penilaian sumatif hanya di jenjang dasar dan menengah.
Standar jenjang anak usia dini tidak memuat penilaian sumatif, sehingga laporan PAUD yang berbentuk seperti kartu nilai sedang menjawab pertanyaan yang tidak pernah diajukan standar tersebut. Pasal 9 ayat (5) menyebutkan hal yang seharusnya dikumpulkan melalui penilaian formatif, yaitu anak yang mengalami hambatan atau kesulitan belajar, serta perkembangan belajar setiap anak.
Kesan kesulitan dan arah perkembangan. Dua hal itulah yang dicari orang tua saat membaca laporan.
Empat komponen untuk setiap elemen, dan sebagian besar laporan hanya memuat satu
Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini merinci isinya dalam Panduan Penyelenggaraan PAUD Berkualitas Seri 2, Kemitraan dengan Orang Tua. Tabel dalam panduan tersebut mengenai laporan hasil belajar menyebutkan narasi ditulis untuk setiap elemen Capaian Pembelajaran, dan memerinci muatan wajib masing-masing, yaitu kemampuan yang sudah dikuasai atau dipelajari anak selama periode tersebut, bukti yang mendukung perilaku yang diharapkan muncul pada anak, capaian yang belum muncul pada anak dan perlu distimulasi beserta gambaran rencana Pendidik untuk menstimulasinya, serta saran, rekomendasi, atau ajakan yang dituliskan secara konkret bagi orang tua atau wali untuk mendukungnya di rumah.
Sudah dikuasai, ada buktinya, belum muncul beserta rencana Anda, dan satu hal konkret untuk orang tua. Dari setumpuk laporan nyata yang Anda baca, hampir semuanya mengerjakan komponen pertama dengan baik, menyinggung sekilas komponen ketiga, lalu sama sekali melewatkan komponen kedua dan keempat. Di situlah letak seluruh kesenjangan antara laporan yang sekadar diarsipkan dan laporan yang benar-benar ditindaklanjuti.
Elemen yang menjadi dasar penyusunan narasi tersebut adalah Nilai Agama dan Budi Pekerti, Jati Diri, serta Dasar-dasar Literasi, Matematika, Sains, Teknologi, Rekayasa, dan Seni. Elemen-elemen ini berasal dari Keputusan Kepala BSKAP Nomor 046/H/KR/2025, keputusan tahun 2025 tentang Capaian Pembelajaran.
Pada Juni 2026, Keputusan Kepala BKPDM Nomor 020 Tahun 2026 mengubah keputusan tersebut, dan menurut kementerian perubahan itu hanya mencakup mata pelajaran Agama dan Budi Pekerti (dicek Oktober 2026). Kementerian tidak menyebutkan apakah perubahan ini juga berlaku untuk elemen jenjang anak usia dini yang namanya mirip, sehingga cocokkan daftar elemen Anda dengan keputusan yang berlaku sebelum siklus pelaporan berikutnya.
Contoh satu entri lengkap untuk satu elemen, yaitu Jati Diri, dapat Anda lihat di bawah ini. Anak dalam contoh ini hanyalah ilustrasi, bukan template dari kementerian.
Dari sisi kemampuan yang sudah dikuasai, Dimas kini mau bergantian dalam permainan kelompok kecil dan meminta mainannya dikembalikan dengan kata-kata. Sebagai bukti, saat bermain balok bulan ini ia meminta balok panjang kepada temannya dan menunggu jawaban terlebih dahulu, dan catatan gurunya merekam hal yang sama pada waktu makan siang.
Untuk capaian yang belum muncul beserta rencana kami, Dimas belum ikut bergabung dalam permainan yang sudah berjalan dan masih menonton dari pinggir. Gurunya akan mengajaknya masuk bersama teman yang sudah akrab dan memberinya tugas, misalnya membagikan kepingan permainan. Saran untuk di rumah, ketika ia bermain dengan sepupunya akhir pekan ini, berikan ia kalimat untuk bertanya, misalnya "boleh aku ikut main?", lalu pujilah usahanya bertanya, bukan pada hasil jawabannya.
Komponen yang diam-diam menentukan apakah tiga komponen lainnya bisa ditulis adalah bukti. Anda tidak bisa mengutip hal yang dilakukan anak pada minggu kedua jika tidak ada yang mencatatnya pada minggu kedua. Mencatat pengamatan sesuai aspek perkembangan saat kejadiannya berlangsung, alih-alih menyusunnya ulang pada minggu tenggat laporan, itulah pembedanya, dan untuk menyimpan catatan seperti itulah pencatatan milestone di Happy Kamper dibuat.
Mengapa kalimat "dia sudah sangat baik" gagal dalam uji objektivitas?
Kalimat tersebut gagal sebab hanya berupa kesan, sedangkan Pasal 2 ayat (3) meminta informasi faktual. Orang tua tidak bisa membayangkannya, tidak bisa memverifikasinya, dan tidak bisa berbuat apa pun dengannya pada Sabtu pagi.
Kementerian menyampaikan poin ini melalui contoh kasusnya sendiri dalam Panduan Penyelenggaraan PAUD Berkualitas Seri 1. Dalam sebuah kegiatan menggambar, alih-alih mengatakan "gambarmu bagus", guru dicontohkan mengatakan bahwa ia menyukai cara anak tersebut tidak hanya menggambar tanaman jagung, tetapi juga menambahkan sungai dan petani yang dilihatnya sehari sebelumnya, yang menjadi tanda bahwa anak itu selalu memiliki pengamatan yang detail.
Panduan tersebut kemudian menjelaskan alasan versi pertama gagal, yaitu dengan mengatakan bagus, guru tidak memberi anak umpan balik yang jelas mengenai kemampuannya sendiri. Pujian tersebut tidak membawa informasi apa pun tentang kemampuan anak.
Ketika pembacanya diganti, aturan ini tetap berlaku utuh. Anak yang selalu mengamati secara detail adalah deskripsi yang bisa dikenali orang tua di rumah, dikembangkan di rumah, dan diceritakan kembali kepada kakek atau neneknya. Kata bagus tidak bisa diperlakukan seperti itu.
Inilah versi praktis dari kesimpulan Hattie dan Timperley dalam The Power of Feedback di jurnal Review of Educational Research, yaitu umpan balik termasuk pengaruh paling kuat terhadap proses belajar, tetapi dampaknya bisa positif maupun negatif, serta jenis umpan balik dan cara penyampaiannya dapat menghasilkan efektivitas yang berbeda-beda. Tujuannya bukan umpan balik yang lebih banyak. Tujuannya adalah umpan balik yang bisa digunakan.
Ada satu uji sederhana yang bisa dipakai sebelum laporan keluar dari lembaga. Bacakan satu kalimat dengan suara keras, lalu tanyakan apa yang bisa dilakukan orang tua secara berbeda setelah mendengarnya. Jika jawabannya tidak ada, kalimat tersebut sedang menggambarkan kepuasan Anda, bukan kondisi anak.
Menulis bagian yang belum muncul tanpa membuat orang tua cemas
Inilah kalimat yang biasanya ditulis ulang guru sampai lima kali, dan panduan tersebut sebenarnya sudah memberi jalan keluarnya. Komponen ketiga bukanlah sekadar kekurangan. Komponen tersebut berisi capaian yang belum muncul yang dipasangkan dengan gambaran rencana Pendidik sendiri untuk menstimulasinya, sedangkan komponen keempat mengubah rencana itu menjadi satu permintaan konkret untuk di rumah.
Catatan mengenai kekurangan yang disertai rencana akan terkesan sebagai proses yang sedang berjalan. Sebaliknya, catatan mengenai kekurangan tanpa rencana justru terkesan sebagai penilaian akhir.
Seri 1 menunjukkan nadanya melalui kisah seorang anak yang terus bergerak saat suasana sedang tenang dan menjatuhkan kotak makan temannya. Gurunya tidak memberinya label. Menurut rumusan panduan tersebut, guru tidak menyebut Jeje sebagai anak yang usil, dan justru membantunya menyusun strategi untuk mengelola kebutuhan bergerak yang tinggi.
Perilakunya digambarkan, lalu diberi arah penyaluran. Dari sisi hukum, Pasal 2 ayat (2) menunjuk ke arah yang sama dengan mensyaratkan penilaian yang tidak bias oleh latar belakang, identitas, atau kebutuhan khusus Peserta Didik.
Seri 2 juga memberi ruang untuk menuliskan hal di luar capaian pembelajaran, sebab laporan dapat pula memuat informasi perilaku anak yang tidak terkait langsung dengan Capaian Pembelajaran yang diharapkan, namun perlu menjadi perhatian khusus. Kehadiran anak diperlakukan dengan cara yang sama. Menurut panduan tersebut, informasi ini ada untuk mendukung orang tua, bukan sekadar mencantumkan angka, dan panduan itu memberi contoh anak yang sering absen karena sakit, yang respons tepatnya berupa dukungan terhadap kesehatan anak, bukan hitungan hari yang terlewat.
Laporan juga bukan tempat untuk menyampaikan sesuatu untuk pertama kalinya. Menurut panduan tersebut, sebelum hasil belajar disampaikan pada akhir semester, lembaga perlu sudah membangun komunikasi dengan orang tua mengenai pembelajaran anak. Apa pun dalam laporan tertulis yang mengejutkan orang tua merupakan kegagalan komunikasi yang terjadi berminggu-minggu sebelumnya, dan inilah alasan untuk menjaga komunikasi dengan orang tua tetap berkelanjutan, bukan menundanya sampai tanggal pelaporan.
Seberapa sering laporan harus dikirimkan?
Narasi dikirimkan minimal dua kali setahun, yaitu pada setiap akhir semester. Informasi pertumbuhan berjalan pada siklus yang lebih pendek, minimal setiap tiga bulan, dan panduan tersebut dengan tegas menyatakan informasi ini harus lebih dari sekadar formalitas pencatatan tinggi dan berat badan anak, serta harus benar-benar menjelaskan status pertumbuhan anak.
Keduanya merupakan batas minimal, dan panduan tersebut menyatakannya secara langsung, yaitu frekuensi laporan dapat diubah sesuai kebutuhan keluarga dan kesepakatan dengan orang tua, termasuk memperpendek periodenya atau menambah laporan bagi anak yang memerlukan perhatian lebih. Alhasil, ritme pelaporan menjadi bahan diskusi dengan keluarga murid Anda, bukan aturan baku, dan hal ini paling penting bagi anak-anak yang orang tuanya paling cemas.
Ada satu catatan pembaruan, sebab pengelola sudah menanyakannya sejak Januari. Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2026 menggantikan standar proses yang lama, dan klausul penilaiannya mengatur penilaian terhadap proses mengajar, yaitu refleksi diri Pendidik minimal sekali dalam satu semester, yang secara opsional melibatkan rekan sejawat, kepala satuan pendidikan, dan anak.
Objek yang diatur di sana berbeda dari laporan anak untuk orang tua, yang tetap berada dalam standar penilaian yang dijelaskan di atas. Lembaga yang menjalankan program anak usia dini dapat melihat posisi siklus pelaporan dalam keseluruhan operasional pada halaman pendidikan anak usia dini.
Hal terakhir yang layak dibangun adalah saluran tanggapan dari orang tua. Seri 2 menempatkan bagian khusus orang tua di dalam laporan itu sendiri, yang dipandu tiga pertanyaan untuk dijawab orang tua, yaitu apakah yang sudah berkembang pada diri anak saya, apa saja yang masih perlu dikembangkan, dan langkah-langkah apa yang dapat saya lakukan untuk membantunya.
Laporan yang menyediakan kolom balasan adalah sebuah percakapan. Laporan tanpa kolom tersebut hanyalah siaran satu arah, dan siaran satu arah seperti itulah yang lama-lama berhenti dibaca.
Pertanyaan Umum
Untuk pemilik lembaga
Kelola lembaga Anda dengan Happy Kamper
Jadwal, penagihan, absensi, dan update untuk orang tua dalam satu tempat. Lihat demo langsung kami, atau bicara dengan tim kami tentang kebutuhan lembaga Anda.
