Kurikulum Merdeka PAUD dan Pencatatan Kemajuan Digital, Hal yang Perlu Diketahui Pengelola
Kurikulum Merdeka PAUD meminta pengelola memantau kemajuan setiap anak melalui pengamatan pada enam aspek perkembangan serta melaporkannya secara berkala kepada orang tua berdasarkan indikator Capaian Pembelajaran. Sistem pencatatan digital memetakan keenam aspek tersebut menjadi domain, memungkinkan guru mencatat pengamatan selama kegiatan kelas berjalan normal, lalu menerbitkan raport perkembangan semester dari data yang sudah terkumpul.
Apa arti Kurikulum Merdeka bagi penilaian anak usia dini?
Kurikulum Merdeka, yang diadopsi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai kerangka kurikulum nasional, menandai perpindahan dari penilaian yang preskriptif dan seragam menuju pencatatan tumbuh kembang yang menyeluruh serta berbasis pengamatan. Bagi pengelola PAUD dan TK, hal tersebut berarti berpindah dari skor tes yang terstandar menuju catatan bernuansa mengenai kemajuan setiap anak pada enam aspek perkembangan, yaitu nilai agama dan moral, fisik-motorik, kognitif, bahasa, sosial-emosional, serta seni.
Kerangka Kurikulum Merdeka PAUD merinci tujuan pembelajaran berupa Capaian Pembelajaran beserta indikator perkembangan untuk setiap kelompok usia dan aspeknya. Pengelola diharapkan memantau kemajuannya terhadap indikator tersebut lalu melaporkannya kepada orang tua secara berkala. Perpindahan dari penilaian sumatif menuju penilaian pengamatan yang berkelanjutan merupakan arah pedagogi yang tepat, tetapi hal itu menimbulkan tantangan praktis, sebab pencatatan berbasis kertas maupun lembar kerja tidak sanggup menyesuaikan skala di lembaga dengan lebih dari 20 sampai 30 anak.
Bagaimana cara memantau enam aspek perkembangan secara digital?
Sistem pencatatan milestone digital untuk Kurikulum Merdeka PAUD sebaiknya memetakan langsung ke enam aspek perkembangan tersebut. Setiap aspek menjadi satu domain di dalam kerangka pencatatannya, dengan Capaian Pembelajaran untuk kelompok usia yang bersangkutan dipecah menjadi milestone yang bisa diamati.
Sebagai contoh, pada aspek Perkembangan Bahasa, milestone untuk anak usia 4 sampai 5 tahun bisa berupa kemampuan mengikuti instruksi lisan dua langkah atau mengenali namanya sendiri dalam bentuk tulisan. Guru mengamati perilaku tersebut dalam kegiatan kelas yang berjalan normal lalu mencatatnya saat kejadiannya berlangsung, alih-alih menjalankan penilaian formal.
Keunggulan pencatatan digital dibanding formulir pengamatan kertas berupa kecepatan dan strukturnya. Guru yang mencatat di dalam sistem bisa menilai sebuah milestone sebagai mulai muncul, sedang berkembang, atau sudah tercapai dalam hitungan detik, melampirkan catatan berfoto, lalu melanjutkan kegiatannya. Pengamatan yang sama kalau dicatat di atas kertas memakan waktu lebih lama, lebih sulit ditelusuri, serta tidak bisa digabungkan secara otomatis menjadi laporan per aspek.
Bisakah Anda mengimpor kerangka Kurikulum Merdeka yang sudah ada?
Salah satu pertanyaan paling umum dari pengelola PAUD yang sedang menilai software pencatatan milestone adalah apakah mereka harus menyusun kerangkanya dari nol. Jawabannya bergantung pada softwarenya.
Pencatatan milestone Happy Kamper memungkinkan pengelola mengunggah dokumen kurikulum yang sudah ada, entah berupa PDF Capaian Pembelajaran Kurikulum Merdeka PAUD, lembar kerja, maupun dokumen terstruktur lainnya, lalu kecerdasan buatannya mengubah dokumen tersebut menjadi kerangka Happy Kamper berisi domain, subdomain, dan milestone satu per satu. Pengelola kemudian bisa meninjau serta menyesuaikan kerangka yang dihasilkan sebelum mengaktifkannya. Pendekatan tersebut memangkas waktu penyiapan secara nyata dibanding pemasukan data manual, terutama untuk kerangka yang berisi ratusan indikator.
Laporan Periodik dan Raport Perkembangan
Raport perkembangan anak merupakan kewajiban komunikasi resmi bagi pengelola PAUD dan TK. Orang tua mengharapkan menerima laporan terstruktur pada akhir setiap semester yang memperlihatkan kemajuan tumbuh kembang anaknya di seluruh aspek.
Sistem pencatatan digital yang mengumpulkan pengamatan harian sepanjang semester bisa menerbitkan laporan tersebut secara otomatis pada akhir periodenya. Gurunya tidak perlu menyusun ulang kejadian selama enam bulan dari ingatan maupun dari catatan yang tersebar. Sistemnya sudah memiliki datanya.
Bagi pengelola yang menginginkan komunikasi lebih sering, misalnya kabar bulanan alih-alih dua laporan setahun, sistem yang sama bisa menerbitkan laporan sela pada irama mana pun. Laporan yang lebih sering dan lebih ringan disertai rangkuman bulanan juga bisa menurunkan jumlah pertanyaan tidak resmi saat penjemputan, sebab orang tua sudah memiliki informasi yang mereka cari.
Pengawasan Admin, Mengetahui Kapan Guru Tertinggal Mencatat
Salah satu risiko operasional dari pencatatan milestone yang tersebar adalah guru secara perorangan tertinggal dalam mencatat, lalu adminnya baru menemukan celah tersebut pada akhir periode ketika laporannya harus terbit. Kelas yang belum diperbarui selama tiga minggu berarti memiliki laporan perkembangan dengan data tiga minggu yang hilang.
Sistem pencatatan milestone yang dirancang baik memberi pengguna tingkat admin sebuah dasbor yang menampilkan status pencatatan di seluruh kelas, yaitu kegiatan mana yang baru saja dinilai, guru mana yang tertinggal, serta anak mana yang catatannya masih tipis sehingga perlu perhatian sebelum siklus laporan berikutnya. Gambaran tersebut memungkinkan kepala lembaga menemukan lalu menutup celahnya secara aktif alih-alih kalang kabut pada saat pelaporan.
