Pola Asuh & Perilaku

Main di Luar Bisa Mencegah Mata Minus pada Anak? Ini Hasil Uji Klinisnya

Iya, tapi untuk mencegah, bukan mengobati. Di satu uji klinis acak pada 952 anak di Guangzhou, tambahan 40 menit kelas di luar ruangan tiap hari menurunkan angka mata minus 3 tahun dari 39,5 persen jadi 30,4 persen. Uji klinis di Taiwan memakai 11 jam seminggu. Keduanya tidak butuh sinar matahari langsung, 1.000 lux setara cahaya tempat teduh sudah cukup.

Main di Luar Bisa Mencegah Mata Minus pada Anak? Ini Hasil Uji Klinisnya

Uji klinis yang menjawabnya menambah 40 menit di jam sekolah

Kebanyakan saran soal kesehatan mata anak ditulis dengan nada mungkin dan sebaiknya. Yang satu ini tidak. Antara Oktober 2010 dan Oktober 2013, satu tim di Guangzhou menjalankan uji klinis acak berkelompok di 12 sekolah dasar dan menerbitkan hasilnya di jurnal JAMA.

6 sekolah menambahkan 1 kelas di luar ruangan selama 40 menit ke setiap hari sekolah, lalu meminta keluarga meneruskan kebiasaan itu di akhir pekan dan hari libur. 6 sekolah lainnya berjalan seperti biasa.

Setelah 3 tahun, mata minus muncul pada 30,4 persen anak di sekolah yang menambah waktu luar ruangan, dan pada 39,5 persen anak di sekolah pembanding. Selisihnya 9,1 poin persentase. Ada 952 anak di kelompok intervensi dan 951 di kelompok pembanding, dengan rata-rata usia 6,6 tahun saat uji klinis dimulai.

Hal tersebut merupakan temuan utamanya, dan versi jujurnya datang dengan catatan yang sering hilang di pemberitaan. Efek pada ukuran refraksinya sendiri ternyata kecil. Dalam 3 tahun yang sama, kelompok intervensi bergeser 1,42 dioptri dan kelompok pembanding 1,59.

Panjang aksial, yaitu peregangan fisik bola mata yang jadi penggerak mata minus, memanjang 0,95 milimeter di satu kelompok dan 0,98 di kelompok lain. Selisih tersebut dilaporkan tidak signifikan secara statistik.

Baca kedua hasil itu berbarengan dan bentuk manfaatnya jadi jelas. Waktu di luar ruangan mengubah berapa banyak anak yang menyeberang jadi minus, tapi tidak banyak mengubah mata yang memang sudah dalam perjalanan ke sana.

Berapa jam seminggu yang dipakai uji klinisnya?

2 uji klinis besar tidak memakai takaran yang sama. Justru perbedaan itulah bagian yang paling berguna buat Mams.

Guangzhou menambah 40 menit ke tiap hari sekolah. Studi Taiwan yang terbit di jurnal Ophthalmology melangkah lebih jauh dan menata ulang jam istirahatnya. Penelitian tersebut mengikuti 693 anak kelas 1 di 16 sekolah dasar dan mendorong kelompok intervensi ke arah 11 jam di luar ruangan per minggu.

Setelah 1 tahun, anak-anak di kelompok itu bergeser 0,35 dioptri berbanding 0,47 pada kelompok pembanding. Risiko mereka mengalami perburukan mata minus yang cepat 54 persen lebih rendah.

Bagian yang perlu dibaca dua kali justru soal kepatuhannya. Di dalam uji klinis berdana yang menata ulang hari sekolah khusus untuk satu variabel ini, cuma 49,79 persen anak di kelompok intervensi yang benar-benar mencapai 11 jam per minggu pada tingkat cahaya yang diukur. Di sekolah pembanding angkanya 22,73 persen.

Kalau separuh anak dalam uji klinis yang memang dirancang untuk itu saja tidak sanggup mencapai targetnya, keluarga yang menyelipkannya di sela macet dan jadwal padat jelas punya tantangan lebih berat. Jadi 11 jam sebaiknya dibaca sebagai arah, bukan sebagai nilai kelulusan.

Bukti gabungannya menunjuk ke arah yang sama. Studi di jurnal Acta Ophthalmologica menggabungkan 4 uji klinis acak yang mencakup 2.945 anak dan melaporkan risk ratio 0,536 untuk munculnya mata minus. Dari 13 studi potong lintang dan 23.112 anak, tiap tambahan 1 jam di luar ruangan per minggu membawa odds ratio 0,964.

Angkanya memang kecil untuk tiap 1 jam, tapi efeknya menumpuk sepanjang masa kanak-kanak. Kebiasaan harian pada akhirnya lebih menentukan dibanding satu kelas tambahan.

Apakah anak harus kena sinar matahari langsung?

Tidak, dan justru ini bagian paling berguna dari seluruh literaturnya buat keluarga di Indonesia. Matahari siang di sini memang sesuatu yang dihindari, bukan dicari.

Tim Taiwan tidak mengandalkan catatan harian orang tua. Mereka memasangkan light meter pada anak-anak dan merekam paparan cahaya yang benar-benar diterima. Efek perlindungannya muncul pada 1.000 lux ke atas.

Kesimpulan mereka menyebutkannya dengan gamblang. Aktivitas luar ruangan dengan paparan sinar matahari kuat mungkin tidak diperlukan untuk mencegah mata minus, dan aktivitas dengan intensitas cahaya lebih rendah namun berdurasi lebih lama, misalnya di koridor atau di bawah pohon, juga bisa dipertimbangkan.

Hal tersebut mengubah cara Mams memandang masalahnya. Lapangan beratap terbuka, sanggar berdinding terbuka, taman yang teduh, atau kelas yang digelar di teras alih-alih di ruangan tertutup ber-AC, semuanya masuk hitungan.

Tidak satu pun dari pilihan itu menuntut kulit terbakar, drama soal topi, atau menunggu ganti musim. Yang dituntut cuma satu, anak tidak berada di balik kaca.

Aturan ini sekaligus mencoret jalan pintas yang paling sering diambil keluarga. Memindahkan anak dari layar ke gedung olahraga tertutup memang mengubah cara dia bergerak, dan hal itu tetap bagus untuk alasan lain, tapi tidak mengubah cahaya yang dia terima. Uji klinis Taiwan mengukur intensitas cahaya secara langsung, dan cahaya itulah yang bergerak seiring efeknya.

Data Indonesia, dan di mana risikonya menumpuk

Bukti dari Indonesia memang lebih tipis dibanding bukti uji klinisnya. Meski begitu, arah yang ditunjukkannya layak diperhatikan.

Studi di International Journal of Ophthalmology memeriksa 410 anak sekolah dasar di 36 sekolah yang tersebar di Kota Yogyakarta, Bantul, Gunungkidul, dan Magelang, dengan rata-rata usia 10,01 tahun. Kelainan refraksi yang belum terkoreksi ditemukan pada 10,1 persen anak di kelompok urban dan 12,3 persen di kelompok suburban.

Di kelompok exurban angkanya 3,8 persen, sedangkan di kelompok rural cuma 1 persen. Dari seluruh kelainan refraksi yang ditemukan tim tersebut, 32,68 persen berupa miopia sederhana dan 8,54 persen berupa miopia tinggi.

Gradiennya yang jadi temuan, bukan angka satuannya. Anak di sekolah urban membawa kelainan refraksi belum terkoreksi sekitar 10 kali lipat dibanding anak di sekolah rural, di dalam satu studi yang sama, pada tahun yang sama, dan diperiksa satu tim dengan satu protokol.

Genetika tidak berubah setajam itu hanya karena melewati batas wilayah. Yang berubah adalah bagaimana satu masa kanak-kanak dijalani secara fisik, dan berapa banyak bagiannya yang terjadi di dalam ruangan.

Hal tersebut layak direnungkan, karena arah perubahan di kota-kota Indonesia justru menuju masa kanak-kanak yang makin banyak di dalam ruangan. Hidup di apartemen, mal ber-AC, hari sekolah yang makin panjang, dan jadwal les yang berpindah dari satu ruang tertutup ke ruang tertutup berikutnya semuanya menarik ke arah yang sama.

Masih ada gunanya kalau anak sudah pakai kacamata?

Di sinilah kebanyakan tulisan berbahasa Indonesia keliru, dan koreksinya memang tidak nyaman didengar. Mams sebaiknya membaca bagian ini pelan-pelan.

Studi di Acta Ophthalmologica menyimpulkan bahwa tambahan waktu di luar ruangan efektif mencegah munculnya mata minus. Namun studi tersebut juga melaporkan satu paradoks, yaitu pada mata yang sudah minus, waktu di luar ruangan tidak menunjukkan manfaat terukur untuk memperlambat perburukannya.

Uji klinis Guangzhou condong ke arah yang sama. Efeknya pada angka kejadian jelas terlihat di 9,1 poin persentase, sedangkan efeknya pada pemanjangan aksial, 0,95 milimeter berbanding 0,98, dilaporkan tidak signifikan.

Uji klinis Taiwan jadi penyeimbangnya, dan sebaiknya dibaca berdampingan, bukan menggantikan. Efek perlindungannya dilaporkan signifikan baik pada anak yang belum minus maupun yang sudah minus dibanding kelompok pembanding.

Jadi 2 uji klinis terbaik yang ada justru berbeda di ujungnya soal apa yang terjadi setelah resep kacamata keluar. Perbedaan seperti itulah yang biasanya diratakan jadi satu kalimat penuh percaya diri di blog klinik.

Bacaan yang bisa dipertahankan lebih sempit dari kedua judul berita tersebut. Waktu di luar ruangan punya bukti acak yang kuat sebagai pencegahan, yaitu sebelum resep pertama muncul.

Setelah resep ada, buktinya bercampur, dan pembicaraannya pindah ke dokter mata, bukan ke jadwal les. Menahan anak berkacamata di dalam rumah justru pelajaran yang salah diambil dari semua ini.

Waktu perekrutan kedua uji klinis juga layak dicatat. Keduanya merekrut anak kelas 1, jadi keduanya mengukur tahun-tahun di sekitar masuk sekolah, yaitu persis saat rutinitas mingguan keluarga mengeras jadi bentuk yang tidak akan berubah lagi selama satu dekade.

Membaca jadwal les sebagai keputusan kesehatan mata

Tidak satu pun dari semua di atas memberi tahu Mams kelas mana yang harus diambil. Yang dilakukannya adalah menambah satu kolom ke tabel perbandingan yang hampir tidak pernah dibuat orang.

2 kelas les bisa berharga sama, berdurasi sama, dan mengajarkan keterampilan yang sama, tapi berdiri di sisi berlawanan dari satu-satunya variabel yang diukur uji klinisnya. Sesi futsal di lapangan terbuka dan sesi futsal di gedung tertutup adalah olahraga yang sama, dan bukan paparan yang sama.

Kelas menggambar di teras teduh dan kelas menggambar di studio tanpa jendela mengikuti silabus yang sama, dan bukan sore yang sama dari sisi cahaya. Perbedaan tersebut tidak akan pernah muncul di brosur.

Coba deh hitung dulu satu minggu anak Mams secara jujur sebelum memutuskan hal ini penting atau tidak. Sekolah dari pagi sampai siang, les di 2 atau 3 sore, PR, makan malam, layar, lalu tidur.

Hitung hanya menit yang benar-benar dihabiskan di bawah langit terbuka, termasuk jalan kaki ke mobil. Kebanyakan keluarga kaget melihat betapa kecil total menitnya begitu waktu di dalam kendaraan berhenti dihitung.

Langkah yang paling berguna biasanya berupa tukar, bukan tambah. Memilih penyedia yang tempatnya berdinding terbuka, atau memindahkan 1 sesi yang sudah ada ke luar ruangan, mengubah total mingguannya tanpa menambah 1 jam pun ke jadwal siapa pun atau 1 rupiah pun ke biaya.

Daftar aktivitas gratis menarik dibaca dengan kacamata ini, karena sebagian besar yang tidak berbiaya juga berlangsung di luar ruangan. Kalau Mams sedang membandingkan pilihan berbayar, pencari aktivitas menyaring berdasarkan area dan usia, jadi bisa bikin daftar pendek dulu, baru tanya soal tempatnya.

Pertanyaan mana yang benar-benar mengubah keputusan?

Ada 4, dan tidak satu pun soal silabus. Semuanya soal tempat dan waktu.

Apakah ruangannya terbuka ke udara luar atau tertutup? Bukan soal ada jendela atau tidak, karena jendela tidak dihitung, melainkan apakah anak berada di bawah langit terbuka atau di bawah atap berdinding terbuka.

Coba minta penyedianya menggambarkan tempatnya, bukan sekadar menjawab ya atau tidak. Jawaban yang berbelit biasanya sudah jadi jawabannya sendiri.

Berapa banyak dari sesinya yang benar-benar dihabiskan di ruang tersebut? Booking 90 menit yang termasuk ganti baju, briefing, dan penutupan di dalam ruangan bukan berarti 90 menit di luar ruangan, dan tidak ada jadwal yang akan memberi tahu pembagiannya.

Apa yang terjadi kalau hujan? Tanyakan, karena rencana cadangan musim hujan justru hal yang tidak pernah tampil di jadwal cetak, dan di sebagian besar wilayah Indonesia hal tersebut menentukan porsi besar dari satu tahun.

Terakhir, berapa total mingguan anak Mams, bukan total dari kelas ini saja? 1 kelas di luar ruangan tidak akan menyelamatkan satu minggu yang dihabiskan di dalam ruangan, dan tidak ada satu booking pun yang mendekati angka mingguan yang dipakai uji klinisnya.

Gunanya bertanya adalah supaya Mams tahu sedang mulai dari titik mana. Tidak ada satu pun dari semua ini yang menggantikan pemeriksaan mata.

Kalau anak menyipitkan mata saat melihat papan tulis, memegang layar terlalu dekat, atau mengeluh sakit kepala sepulang sekolah, hal tersebut alasan untuk ke dokter mata sekarang, bukan alasan untuk menambah jadwal futsal. Yang didukung uji klinisnya lebih sempit dan lebih praktis dibanding judul-judul beritanya.

Untuk anak yang belum minus, jam-jam di bawah langit terbuka adalah satu-satunya intervensi yang punya bukti acak di belakangnya, dan itu gratis. Daftar aktivitas di Jakarta memperlihatkan penyedia mana yang beroperasi di mana, dan itu cara tercepat melihat berapa banyak dari daftar pendek Mams yang benar-benar di luar ruangan.

Pertanyaan Umum

Berapa lama anak perlu main di luar untuk menjaga penglihatannya?+
2 uji klinis memakai takaran yang berbeda. Guangzhou menambah 1 kelas luar ruangan 40 menit ke tiap hari sekolah dan menurunkan angka mata minus 3 tahun dari 39,5 persen jadi 30,4 persen, sedangkan Taiwan menargetkan 11 jam seminggu dan melaporkan risiko perburukan cepat 54 persen lebih rendah setelah 1 tahun. Baca 11 jam sebagai arah, bukan target, karena di dalam uji klinis Taiwan sendiri cuma 49,79 persen anak intervensi yang mencapainya.
Apakah anak harus kena sinar matahari langsung?+
Tidak. Tim Taiwan mengukur paparan dengan light meter dan menemukan efek perlindungannya pada 1.000 lux ke atas, lalu menyimpulkan bahwa aktivitas luar ruangan dengan sinar matahari kuat mungkin tidak diperlukan. Lapangan beratap atau teras teduh sudah masuk hitungan, sedangkan gedung olahraga tertutup yang terang tidak.
Masih ada gunanya kalau anak sudah pakai kacamata?+
Buktinya bercampur setelah resep kacamata keluar. Studi Acta Ophthalmologica tidak menemukan manfaat terukur untuk memperlambat perburukan pada mata yang sudah minus, dan uji klinis Guangzhou tidak menemukan perbedaan signifikan pada pemanjangan aksial, 0,95 milimeter berbanding 0,98. Uji klinis Taiwan justru melaporkan efek perlindungan pada anak yang sudah minus maupun yang belum, jadi setelah kacamata diresepkan sebaiknya Mams menanyakan langkah memperlambatnya ke dokter mata.
Seberapa umum mata minus pada anak Indonesia?+
Studi terhadap 410 anak sekolah dasar di 36 sekolah di Kota Yogyakarta, Bantul, Gunungkidul, dan Magelang menemukan kelainan refraksi belum terkoreksi pada 10,1 persen anak urban, 12,3 persen suburban, 3,8 persen exurban, dan 1 persen rural. Dari seluruh kelainan refraksi yang ditemukan, 32,68 persen berupa miopia sederhana dan 8,54 persen berupa miopia tinggi.

Artikel Terkait

Jenis Masker Anak Anti Polusi, Mana yang Benar-Benar Melindungi dari Kabut Asap dan Abu Vulkanik?
Sudah Buat Resolusi Parenting di Tahun Baru Moms? Sini Merapat!
Manfaat Dongeng bagi Anak Sejak Dini, Salah Satunya Membangun Dunia Imajinasi!

Temukan Aktivitas Anak Terbaik

Temukan, bandingkan, dan pesan aktivitas terbaik untuk anak Anda di 100+ kota di Indonesia.

Unduh Aplikasi