Tiga Resep Anak Tanpa Kompor untuk Masak Bareng di Rumah
Tiga menu tanpa panas sama sekali, yaitu cup buah dan yoghurt, bola oat pisang, serta pinwheel cream cheese. Anak yang menyobek, melumat, mengoles, dan menyusun lapisannya, sedangkan orang dewasa yang memegang semua pemotongan dengan pisau tajam. Bersiaplah kalau salah satu dari ketiganya ditinggal di tengah jalan, karena memang biasanya begitu.
Cup Buah dan Yoghurt, Mulai Usia Sekitar Dua Tahun
Untuk dua cup, siapkan satu wadah besar yoghurt plain, empat keping biskuit manis, satu pisang matang, dan segenggam stroberi atau setengah mangga. Madu sifatnya pilihan, begitu juga setengah jeruk nipis.
Bagian memotong dikerjakan lebih dulu. Mams yang mengiris pisang, membelah stroberi memanjang, memotong mangga jadi dadu, dan membelah anggur jadi empat memanjang, bukan melintang.
Masukkan biskuit ke kantong tertutup, lalu serahkan ke anak. Anak kecil akan menekannya dengan kedua telapak tangan, dan tagertnya menjadi remahan, bukan bubuk halus.
Peras jeruk nipis ke dalam yoghurt, lalu biarkan anak yang mengaduknya. Pilih mangkuk dua kali lipat lebih besar dari kebutuhan, karena adukan di usia ini masih bertenaga dan penuh semangat.
Setelah itu polanya tinggal sendok, tuang, ulangi. Remahan di dasar tiap gelas, yoghurt di atasnya, buah, yoghurt lagi, lalu remahan di lapisan paling atas.
Jaga remahannya tetap kering sampai masuk gelas, karena biskuit basah berubah kayak pasta yang sifatnya lembek. Jangan pakai madunya kalau ada bayi di bawah satu tahun yang ikut mencicipi, sebab IDAI menyarankan madu ditunda sampai dua belas bulan. Saran IDAI soal tersedak juga menjadi alasan anggur dibelah memanjang, karena makanan perlu dipotong kecil dan anak perlu ditemani saat makan.
Bola Oat Pisang, Mulai Usia Sekitar Tiga Tahun
Resep ini sama sekali tidak punya langkah khusus orang dewasa. Dua pisang yang sangat matang, satu setengah cangkir rolled oats, tiga sendok makan kelapa parut kering, dan sejumput garam menghasilkan sekitar dua belas bola.
Biarkan anak yang mengupas pisangnya, karena di usia tiga tahun pekerjaan itu terasa nyata, dan itulah alasan memilih buah berkulit berbintik. Setelah itu lumatkan dengan garpu sampai tidak ada lagi bagian yang bisa ditekan.
Tuang oats, kelapa parut, dan garam di atasnya. Biarkan anak mengaduk dengan sendok sampai sendoknya tidak berguna lagi, lalu lanjutkan dengan kedua tangan.
Setelah itu diamkan adonannya sepuluh menit. Oats akan menyerap pisang selama didiamkan, dan melewatkan langkah ini membuat adonan mudah hancur saat dibentuk.
Ambil satu sendok teh penuh setiap kali, bulatkan di antara telapak tangan, lalu gulingkan tiap bola ke kelapa parut. Anak tiga tahun menghasilkan bentuk miring sebelah, sedangkan anak lima tahun menghasilkan bola bulat rapi.
Kalau adonannya hancur, tambahkan pisang lumat satu sendok setiap kali, dan kalau lengket, basahi telapak tangan anak alih-alih menambah air. Simpan di kulkas setengah jam supaya bolanya tidak buyar saat dipegang. Jangan pakai kacang utuh, dan tumbuk dulu kalau Mama Papa ingin sensasi renyah.
Pinwheel Cream Cheese, Mulai Usia Sekitar Empat Tahun
Pinwheel terlihat merepotkan padahal tidak. Dua lembar tortilla besar, empat sendok makan cream cheese, empat iris ayam matang, empat lembar daun selada, dan segenggam wortel parut menghasilkan delapan potong.
Berikan anak pisau meja tumpul dan cream cheese bersuhu ruang, karena keju dingin merobek tortillanya. Minta anak mengoles sampai ke seluruh tepi, sebab tepi kosong membuat gulungannya terbuka lagi.
Seladanya disobek, bukan dipotong, sampai cukup rata untuk bisa berbaring rapi. Setelah itu ayamnya ditata satu lapis, wortelnya ditaburkan di atasnya, dan isiannya berhenti sampai di situ.
Menggulung menjadi tugas Mams, begitu juga memotongnya. Gulung tiap lembar rapat-rapat dari tepi terdekat, bungkus plastik wrap, dinginkan dua puluh menit, lalu potong melintang setebal kira-kira dua jari.
Dua macam isian sudah cukup, karena tambahan yang ketiga membuat gulungan terbelah saat diputar. Anak empat tahun sudah bisa mengoles sampai ke tepi sendiri, sedangkan anak dua tahun mengoles tebal di bagian tengah, dan keduanya tetap dapat digulung dengan baik.
Apa Saja yang Benar-Benar Bisa Dikerjakan Anak Kecil?
Menyobek datang paling awal, mulai sekitar usia delapan belas bulan, yaitu selada, roti, daun herba lunak, dan apa pun yang mudah terbelah. Kemampuan tersebut menjadi satu-satunya keterampilan dapur yang dikuasai anak sejak awal.
Memeras dan melumat menyusul di sekitar usia dua tahun, dengan pemeras jeruk manual atau di bawah garpu. Mengaduk muncul di usia yang sama, asalkan mangkuknya jauh lebih besar dari isinya dan diletakkan setinggi dada anak.
Menyendok dan menyusun lapisan hadir mendekati usia dua setengah tahun, dalam bentuk menyendok lalu menjatuhkan, bukan menyendok lalu meratakan. Mengoles membutuhkan pergelangan tangan yang bisa berputar sehingga baru muncul sekitar usia tiga tahun, sedangkan menggulung datang paling akhir karena kedua tangan harus bekerja berbeda secara bersamaan.
Bagian yang tetap dipegang orang dewasa yaitu apa pun yang bermata tajam, apa pun yang panas, dan apa pun yang takarannya harus persis. Selain itu semuanya boleh meleset tanpa membuat menunya gagal.
Berantakan Seperti Apa yang Perlu Direlakan?
Relakan lantainya. Debu oat, remahan, lingkaran yoghurt di sekeliling mangkuk, dan anak yang menghabiskan sepertiga stroberi adalah harga dari resep yang berhasil.
Satu bungkus penuh yang tumpah bukan bagian dari harga itu, jadi pindahkan dulu oats dan kelapa parut ke wadah kecil. Bungkus yang tumpah mengakhiri kegiatan, sedangkan mangkuk yang tumpah tidak.
Serbet di bawah mangkuk membuat wadahnya tidak bergeser, dan lap lembap yang mudah dijangkau membuat anak membersihkan tangannya sendiri. Satu aturan yang layak dipegang yaitu tangan tidak boleh masuk ke mulut lalu kembali ke mangkuk bersama, jadi berikan anak sendok lalu menyicipnya sendiri.
Bagaimana Kalau Anak Bosan di Tengah Jalan?
Anak pasti akan pergi, dan hampir selalu di langkah yang berulang, yaitu bola ketujuh, tortilla kedua, atau sendokan yoghurt keempat. Tidak ada yang salah di situ, dan responsnya adalah menyelesaikan sendiri sambil mengatakannya dengan lantang.
Jangan panggil mereka kembali ke meja dan jangan bernegosiasi menggunakan makanan. Makanan yang berubah menjadi bahan perdebatan adalah makanan yang pada akhirnya akan mereka tolak untuk dimakan. Menu yang berubah menjadi perdebatan adalah menu yang nantinya ditolak anak.
Sisakan satu langkah yang terlihat untuk saat anak kembali, yaitu taburan remahan terakhir, gulingan ke kelapa parut, atau potongan pertama pada pinwheel. Sesuaikan resepnya dengan suasana hari itu di kesempatan berikutnya, karena cup buah selesai lima menit sedangkan pinwheel butuh dua puluh menit.
Kalau tidak ada kegiatan dapur yang sanggup menahan perhatian si kecil, panduan jenis aktivitas anak berisi pilihan lain yang bisa dilakukan di rumah. Pencari aktivitas menjadi tempat mencari jawaban ketika kegiatannya harus dilakukan di luar rumah.

