Anak Suka Berantakin Rumah? Ini Apa yang Dipelajari Saat Sensory Play
Sensory play adalah permainan yang bikin anak mencari tahu melalui tangan, mulut, telinga, atau matanya, bukan karena dijelaskan. Di satu studi, anak usia 16 bulan yang mengaduk selai, saus tomat, dan sirup di kursi makan justru belajar menamai benda itu dari bahannya. Jadi berantakannya bukan efek samping, tapi mesin belajarnya.
Apa saja yang termasuk sensory play?
Hampir semuanya nggak perlu dibeli, Mams. Sensory play mencakup permainan apa pun yang bikin anak mengumpulkan informasi melalui inderanya sendiri, bukan karena dikasih tahu jawabannya, mulai dari air di baskom, adonan, pasir basah, kertas yang disobek, sendok yang dipukulkan ke panci, sampai tangan yang masuk ke mangkuk nasi waktu makan malam.
IDAI, Ikatan Dokter Anak Indonesia, melihatnya dengan cara yang sama. Panduannya meminta perangsangan setiap hari pada semua sistem indera, yaitu pendengaran, penglihatan, perabaan, pembauan, dan pengecapan, ditambah gerak kasar dan halus. Artinya ada 5 sistem indera dan 2 jenis gerakan yang perlu dirangsang tiap hari, dan nggak ada satu pun kata soal kelas, kit, atau langganan di kalimat tersebut.
Berantakan itu justru mesinnya, bukan efek sampingnya
Bukti paling jelasnya datang dari percobaan belajar kata di University of Iowa yang dimuat di Developmental Science. Perry, Samuelson, dan Burdinie mengerjakannya bersama 72 anak dengan rata-rata usia 16 bulan, dalam rentang 15 sampai 17 bulan, lalu memberi mereka bahan yang sama sekali nggak butuh dana riset, seperti selai stroberi, selai anggur, mustard, sirup blueberry, saus tomat, saus cokelat, dan isian pie.
Separuh anak bertemu bahan tersebut di meja biasa. Separuh lagi bertemu bahan yang sama sambil duduk di kursi makan, tempat anak seusia itu memang biasa menemui sesuatu yang basah dan tidak berbentuk. Anak yang duduk di kursi makan lebih banyak memegang dan mengaduk bahannya, yang di artikelnya dicatat sebagai perilaku manual yang lebih banyak secara keseluruhan, dan efeknya paling kuat di kelompok yang sekaligus diajari nama benda tersebut.
Bagaimana main pakai tangan mengubah apa yang dipelajari anak?
Yang berubah adalah sifat mana dari benda tersebut yang diperhatikan anak. Anak kecil yang diminta mencari benda serupa biasanya memilih yang bentuknya mirip, karena bentuk memang jadi kesamaan sebagian besar benda yang punya nama.
Sirup nggak punya bentuk yang tetap. Untuk mencocokkannya, anak harus menyadari bahan penyusunnya, dan untuk menyadari hal itu, tangannya harus menyentuh dulu.
Artikel dari Iowa tersebut melaporkan adanya interaksi tiga arah yang signifikan, yaitu anak di kelompok kursi makan yang sekaligus diajari nama lebih sering memilih benda yang cocok bahannya dibanding kelompok lain. Dibaca sebagai orang tua, bukan sebagai psikolog, temuannya sesederhana ini. Kegiatan mengeksplorasi bukan sesuatu yang anak lakukan sebelum belajar, karena justru eksplorasi itulah proses belajarnya.
Sensory play di meja makan punya tugas kedua
Kalau Mama Papa punya anak yang nggak mau menyentuh apa pun yang berwarna hijau, studi ini yang perlu diketahui. Coulthard dan Sealy, yang dimuat di jurnal Appetite, merekrut 62 anak prasekolah usia 3 sampai 4 tahun dari 3 kelas dan membaginya ke 3 kondisi, yaitu main langsung dengan buah dan sayur asli, main dengan bahan bukan makanan, dan sekadar menonton sesi buah dan sayur tersebut.
Setelah itu semua anak ditawari sesi mencicipi. Anak yang tangannya sempat menyentuh makanan mencicipi jauh lebih banyak dibanding dua kelompok lain, dan efeknya ikut terbawa ke 3 makanan yang sama sekali nggak dipakai di kegiatan tadi.
Menonton saja ternyata nggak cukup, sentuhan yang bikin beda. Bagian praktisnya justru ada di situ, karena anak sama sekali nggak harus memakannya, cukup memegangnya.
Penulisnya sendiri hati-hati soal batas temuan ini. Mereka mencatat bahwa studi intervensi jangka panjang masih perlu dilakukan untuk melihat apakah efeknya bertahan, jadi anggap ini cara menurunkan tekanan di satu waktu makan, bukan obat buat anak yang susah makan.
Perlukah bayar kelas sensory play?
Untuk anak yang tumbuh normal, semua bukti di atas justru mengarah ke dapur rumah, bukan ke formulir booking. Kedua studi tadi menghasilkan efeknya cuma dengan makanan, satu wadah, dan orang dewasa yang membiarkan anaknya berantakan.
Daftar mainan versi IDAI sendiri menaruh permainan pasir atau air di usia 2 tahun, sederet dengan puzzle, lego, dan set konstruksi, sementara untuk setahun sebelumnya yang diminta adalah crayon, kertas besar, pensil warna, dan permainan yang berpura-pura. Nggak ada satu pun yang terbaca sebagai peralatan khusus.
Yang beneran didapat dari kelas yang bagus itu hal lain, dan layak disebut jujur, yaitu kekacauan yang lebih besar dari daya tampung lantai rumah, bahan yang nggak akan Mams siapkan sendiri, dan anak-anak lain sebagai teman main. Semua itu alasan yang sah. Cuma memang bukan alasan perkembangan.
Sensory play dan terapi sensory integration itu dua hal berbeda
Di sinilah hasil pencarian jadi campur aduk, karena tempat yang memasang iklan kelas sensory integration sebenarnya meminjam nama sebuah tindakan klinis. American Academy of Pediatrics menjelaskan wujud tindakan tersebut melalui pernyataan kebijakan tahun 2012, yaitu kegiatan yang diyakini menata sistem indera dengan memberi masukan vestibular, proprioseptif, auditori, dan taktil, memakai sikat, ayunan, bola, serta peralatan terapi atau rekreasi rancangan khusus lainnya.
Pernyataan yang sama juga sangat lugas soal diagnosis yang sering dipakai untuk menjualnya. Karena belum ada kerangka diagnosis yang diterima secara universal, katanya, sensory processing disorder secara umum sebaiknya tidak didiagnosis, dan gangguan perkembangan serta perilaku lain harus selalu dipertimbangkan lebih dulu melalui pemeriksaan menyeluruh.
Soal apakah terapinya berhasil, pernyataan tersebut cuma memperbolehkan terapi okupasi berbasis indera sebagai satu komponen dari rangkaian penanganan yang menyeluruh, lalu menambahkan bahwa orang tua perlu diberi tahu kalau riset soal efektivitas terapi sensory integration masih terbatas dan belum konklusif. Usia pernyataan tersebut sekarang sudah lebih dari satu dekade, jadi kami mengutipnya beserta tahunnya, bukan sebagai kebijakan yang berlaku hari ini, meski belum ada pernyataan lebih baru di jurnal yang sama yang menggantikannya.
Kalau ada tempat di Jakarta yang menyebut perilaku anak sebagai sensory processing disorder lalu menjual paket atas dasar itu, saran Academy tersebut adalah mencari pemeriksaan yang benar lebih dulu. Terapi apa pun sebaiknya diperlakukan sebagai masa percobaan yang boleh Mama Papa nilai sendiri hasilnya.
Apa yang sebenarnya diminta IDAI untuk dilakukan di rumah?
Sesuatu yang jauh lebih kecil dan lebih rutin dibanding sesi mingguan. Panduan IDAI menyebutkan momennya, yaitu stimulasi dilakukan setiap kali ada kesempatan berinteraksi dengan bayi atau balita, lalu merinci memandikan, mengganti popok, menyusui, menyuapi makanan, menggendong, mengajak berjalan-jalan, bermain, menonton TV, di dalam kendaraan, dan menjelang tidur. Itu 10 bagian biasa dari satu hari, dan nggak satu pun butuh waktu luang khusus.
Ada satu syarat soal caranya, yaitu dengan suasana bermain dan kasih sayang, dan syarat itu langsung menggugurkan versi di mana orang tua yang capek malah menjalankannya seperti latihan wajib. Waktu mandi dengan gelas yang bisa dituang sudah termasuk sensory play.
Begitu juga membiarkan anak makan nasi pakai tangannya sendiri. Begitu juga jalan sore di mana Mams berhenti sebentar dan membiarkan anak menyentuh daun yang basah.
Apakah bak beras atau kacang aman untuk balita?
Aman kalau diawasi, dan kalau usianya memang sudah pas. Bahan yang paling gampang dipakai buat bak sensory di dapur Indonesia, yaitu beras dan kacang, justru persis yang disebut IDAI di panduannya soal tersedak. Panduan itu mengaitkan risikonya langsung ke tahap ini, karena tersedak paling sering dialami oleh anak-anak pada masa balita di saat mereka masih senang bereksplorasi, dan yang disebut sebagai penyebab tersering adalah makanan berukuran kecil, seperti kacang, atau benda berukuran kecil, seperti koin.
Pencegahan yang diberikan bukan larangan. Anak pada usia yang senang bereksplorasi membutuhkan pengawasan dari orang tua, katanya, dan khusus soal makanan, tidak ada makanan yang perlu dihindari asal disesuaikan dengan usia anak.
Praktiknya, tetaplah di ruangan yang sama dan jangan ditinggal mencuci, lewati dulu bahan kering berukuran kecil untuk anak yang masih memasukkan apa pun ke mulut, dan pakai air, adonan, kain lebar, atau pasir basah sebagai gantinya di usia tersebut. IDAI juga meminta kegiatan makan tidak digabung dengan bermain, jadi pisahkan waktu bak sensory dari waktu makannya.
Bahan sesuai usia, dan kapan kelas memang sepadan
Ikuti fase versi IDAI, bukan daftar belanja. Sekitar usia 1 sampai 2 tahun, crayon, kertas besar, dan permainan yang berpura-pura yang paling pas. Dari usia 2 tahun, pasir dan air mulai masuk, berbarengan dengan set konstruksi.
Benda-benda rumah tangga selalu bisa dipakai, misalnya sebaskom air dengan dua gelas, adonan, nampan berisi busa cukur, pasta kering untuk anak yang sudah lewat masa memasukkan benda ke mulut, dan kertas yang disobek. Rotasi apa yang dikeluarkan, jangan ditambah terus. Kalau memang mau ambil kelas, ambil untuk hal yang nggak bisa disediakan rumah, yaitu ruang yang lebih besar dan teman sebaya, lalu pakai satu sesi percobaan untuk menilainya.
Sebagian tempat di direktori menyediakan free trial, jadi Mama Papa bisa lihat ruangannya dulu sebelum bayar satu periode penuh. Yang sedang berjalan di dekat rumah bisa ditelusuri melalui daftar aktivitas Jakarta, dan kalau yang dicari sebenarnya soal dugaan hambatan perkembangan, bukan pengayaan, kategori terapi dan perkembangan jadi titik mulai yang tepat, sesudah pemeriksaan, bukan sebagai penggantinya.
Satu hal yang perlu jelas, Happy Kamper adalah direktori berisi ulasan dan booking, bukan rekam medis. Kami tidak menyimpan hasil pemeriksaan, catatan terapi, atau catatan sesi, dan tercantum di sini bukan berarti kredensial terapi seseorang sudah kami verifikasi. Untuk versi sehari-harinya, panduan kami soal belajar melalui bermain mengisi sisa harinya.



