Tahapan Tumbuh Kembang

Konsultasi Tumbuh Kembang Anak, Ke Mana Dulu Sebelum ke Klinik

Mulai dari langkah yang gratis, yaitu ceklis perkembangan di Buku KIA, lalu kader di Posyandu bulanan, baru skrining KPSP oleh tenaga kesehatan di Puskesmas. Dokter anak atau klinik tumbuh kembang menyusul setelahnya, karena yang mereka butuhkan adalah rujukan. Langsung temui tenaga kesehatan kalau anak kehilangan kemampuan yang tadinya sudah dimiliki.

Konsultasi Tumbuh Kembang Anak, Ke Mana Dulu Sebelum ke Klinik

Catat dulu apa yang Mams lihat, sebelum bikin janji

Mams sudah melihat sesuatu yang bikin khawatir, dan langkah paling berguna berikutnya bukan bikin janji dokter, melainkan mencatat. Tulis hal spesifik yang Mams lihat beserta tanggalnya, karena kalimat itulah yang nanti ditanyakan semua orang yang Mams temui.

Catatan yang spesifik jauh lebih berguna daripada yang umum. Bilang anaknya jarang ngomong hampir nggak memberi bahan apa pun buat tenaga kesehatan. Sedangkan bilang bahwa dia berhenti memakai empat kata yang tadinya sudah bisa diucapkan, sekitar pertengahan bulan lalu, dan sampai sekarang belum dipakai lagi, itu sudah hampir seisi konsultasinya.

IDAI menyebut dengan jelas bahwa untuk tahu apakah seorang anak tertinggal dibutuhkan dua hal, yaitu alat skrining yang benar dan laporan orang tua sendiri tentang apa yang mereka lihat. Bagian kedua itu tugas Mams dan nggak ada orang lain yang bisa menggantikan. Milestone tracker kami bisa jadi tempat menyimpan catatan tersebut kalau Mams lebih suka nggak pakai kertas.

Simpan tiga hal ini jadi satu. Yang pertama adalah Buku KIA yang dikeluarkan layanan kesehatan dan dirancang dipakai sejak masa kehamilan sampai anak berumur 6 tahun, ditambah catatan bertanggal tentang apa yang anak lakukan, apa yang berhenti dia lakukan, dan apa yang dikatakan orang lain ke Mams. Yang ketiga adalah video pendek di HP tentang hal yang bikin khawatir, diambil di hari biasa, bukan di hari yang lagi bagus-bagusnya.

Bawa ketiganya. Buku itu memang dibuat untuk dibawa setiap kali berkunjung, baik ke Posyandu, Puskesmas, maupun fasilitas kesehatan lain, dan cuma buku itu satu-satunya dokumen di ruangan yang sudah berisi riwayat anak Mams.

Apa saja yang dicek di Posyandu setiap bulan?

Timbangan bulanan itu pengecekan pertumbuhan. Perkembangan dicek sesuai jadwalnya sendiri, bukan tiap bulan, dan Buku KIA menuliskannya persis begitu di banner yang diulang di bagian balita, yaitu bawa anak ke Posyandu atau fasilitas kesehatan setiap bulan untuk memantau pertumbuhan, perkembangan sesuai jadwal, imunisasi, vitamin A, dan obat cacing.

Kebanyakan orang tua membaca kalimat itu sebagai satu hal, padahal isinya dua. Ini penting karena rangkaian kunjungan bulanan yang lancar bukan bukti bahwa ada yang sudah melihat sisi perkembangannya. Kalau sudah lama nggak ada yang membuka halaman perkembangan di buku Mams, artinya memang belum ada yang mengeceknya.

Halaman-halaman itu memang untuk diisi Mams sendiri. Tiap rentang usia punya daftar singkat penanda perkembangan dengan kolom Ya dan Tidak, dan di atas tiap daftar ada satu instruksi, yaitu kalau anak belum bisa melakukan salah satu saja dari daftar itu, bawa dia ke Puskesmas. Bukan sebagian besar isinya, tapi satu saja sudah cukup.

Kemenkes menjelaskan jalur yang sama dari sisi sebaliknya. Segera kasih tahu kader, yaitu relawan terlatih yang menjalankan kegiatan Posyandu, begitu ada satu isian yang terjawab Tidak, dan kader yang akan mengurus bantuan dari tenaga kesehatan di Puskesmas. Jalur itu pintu tercepat di sistem ini, terbuka di pagi hari Posyandu, dan nggak butuh janji temu maupun surat rujukan.

Skrining apa yang dilakukan di Puskesmas, dan apa artinya?

Alatnya bernama KPSP, yaitu kuesioner pra skrining perkembangan yang isinya singkat. Petunjuk teknis Kementerian Kesehatan untuk layanan primer membagi tugasnya dengan jelas, yaitu kader di Posyandu bekerja dari ceklis di dalam Buku KIA, sedangkan KPSP sendiri dijalankan tenaga kesehatan di Puskesmas mengikuti pedoman deteksi dini nasional.

IDAI menyampaikan langkah yang sama dengan nada lebih tegas untuk anak paling kecil, yaitu menyarankan membawa anak ke Puskesmas untuk pemeriksaan skrining, terutama untuk anak di bawah usia 2 tahun. Tujuannya supaya ketahuan apakah perkembangannya sudah sesuai umur atau ada penyimpangan yang perlu konsultasi lanjutan.

Semua ini nggak harus keluar biaya. Pemeriksaan tumbuh kembang untuk balita sudah termasuk di dalam cek kesehatan gratis nasional yang diadakan Kemenkes setahun sekali dan didaftarkan melalui aplikasi SATUSEHAT Mobile. Banyak keluarga nggak pernah memakainya karena dari namanya memang nggak kelihatan kalau layanan itu mencakup hal ini.

Penting juga jelas soal hasil yang keluar nanti. Hasil KPSP itu hasil skrining, bukan diagnosis, dan istilah yang dipakai pedomannya sendiri untuk dua hasil yang perlu diperhatikan adalah meragukan dan menyimpang. Hasil itu nggak menjelaskan penyebabnya, nggak menyebut nama kondisinya, dan bukan pengganti pemeriksaan dokter terhadap anak Mams.

Yang dilakukannya adalah membuka pintu berikutnya. Di pedoman yang sama, hasil perkembangan yang meragukan atau menyimpang justru dicantumkan sebagai dasar rujukan ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi. Satu baris itulah alasan kenapa urutan di artikel ini disusun seperti ini.

Klinik tumbuh kembang butuh rujukan, bukan kekhawatiran umum

Banyak orang tua langsung menuju klinik tumbuh kembang swasta, dan dorongan itu gampang dipahami. Rasanya seperti sudah melakukan sesuatu, dan biasanya bisa dijadwalkan minggu itu juga. Padahal hasil yang didapat sering kali lebih kecil daripada biayanya.

Klinik bekerja dari sebuah pertanyaan. IDAI menempatkan konsultasi ke klinik tumbuh kembang sebagai langkah ketika sudah ada kecurigaan spesifik yang mau diajukan, lengkap dengan tanda-tanda yang bisa disebutkan, bukan sekadar rasa khawatir yang umum. Kalau datang tanpa itu, pertemuan berbayar pertamanya banyak habis untuk menyusun catatan yang sebenarnya bisa Mams bawa sendiri dari rumah.

Dokter berada di antara skrining dan klinik, dan posisi itu bukan sekadar formalitas antre. IDAI menyebutkan beberapa penyebab yang cukup berbeda di balik keterlambatan bicara, salah satunya gangguan pendengaran, dan menyatakan dengan jelas bahwa jenis penanganan serta lamanya disesuaikan dengan penyebab pada tiap anak. Penyebab mana yang berlaku adalah pertanyaan medis, dan menjawabnya di urutan yang salah berarti membayar terapi yang sasarannya keliru.

Jadi urutannya adalah hasil skrining, lalu dokter, baru klinik atau terapis yang disebutkan dokter tersebut. Kalau Mama Papa sudah terlanjur ke klinik duluan, nggak ada yang terbuang. Bawa catatan dari klinik itu kembali ke Puskesmas atau ke dokter anak, lalu lanjutkan dari sana.

Kapan sebaiknya nggak nunggu lagi?

Sebagian besar hal yang bikin orang tua khawatir sebenarnya masih ada di rentang normal. Ada daftar pendek yang tidak, dan IDAI menerbitkannya sebagai tanda bahaya sekaligus menyarankan untuk tidak menunda dan langsung menemui tenaga kesehatan terdekat, bukan menunggu jadwal kunjungan berikutnya.

Usia yang disebut IDAI ada empat, yaitu tidak merespons namanya sendiri di 12 bulan, belum ada kata sama sekali di 15 bulan, belum bisa bermain pura-pura di 18 bulan, dan belum ada gabungan dua kata yang berarti di 24 bulan. Masing-masing itu pengamatan yang spesifik, bukan kesan umum, dan justru itulah yang bikin daftar ini bisa dipakai.

Ada satu lagi yang berada di luar patokan usia, dan justru inilah yang paling perlu diingat. Hilangnya kemampuan yang tadinya sudah dimiliki anak, misalnya kata yang dulu bisa diucapkan lalu berhenti dipakai, atau keterampilan yang mundur, diperlakukan IDAI sebagai tanda bahaya di usia berapa pun. Hanya poin inilah di halaman ini yang sebaiknya menggerakkan Mams hari ini juga, bukan menunggu Posyandu berikutnya.

Sebagian besar yang bikin khawatir sebenarnya masih normal

Hal paling berguna di sini adalah betapa lebarnya rentang yang disebut normal. IDAI menempatkan rentang wajar untuk mulai berjalan mulai dari 10 hingga 18 bulan, dan kedua ujung rentang itu sama-sama biasa saja, jadi anak seumuran memang sering berada di ujung yang berbeda. Makanya membandingkan anak di grup chat orang tua itu alat ukur yang buruk, dan catatan bertanggal tentang anak sendiri jauh lebih berharga daripada sebanyak apa pun bacaan tentang anak orang lain.

Ditenangkan bukan berarti disuruh menunggu. Inti dari langkah-langkah gratis tadi adalah biayanya cukup ringan untuk diambil selagi Mams masih ragu. Mams nggak perlu yakin dulu ada yang salah untuk mengisi ceklisnya, dan nggak perlu yakin juga untuk menyampaikannya ke kader.

Kalau Mams juga sedang mencari kelas, pisahkan urusan itu dari yang ini, karena kelas bukan bentuk penanganan. IDAI menyebut bahwa kekhawatiran tumbuh kembang sebaiknya dikonsultasikan dulu ke dokter tumbuh kembang anak, bukan sekadar ditangani dengan menyekolahkan anak, dan itu pantas diulang di situs yang memang hidup dari mendaftarkan kelas. Lihat aktivitas kalau Mams memang mau cari kegiatan, dan tetap lakukan skriningnya karena skrining menjawab pertanyaan yang berbeda.

Happy Kamper adalah direktori kelas sekaligus software yang dipakai tempat-tempat penyelenggaranya. Direktori ini nggak menyimpan hasil skrining, catatan terapi, maupun rekam medis, dan tercantum di sini bukan berarti kredensial klinis seseorang sudah diperiksa. Jalur di artikel ini melewati layanan kesehatan, dan memang di situlah seharusnya jalurnya.

Ini informasi umum, bukan nasihat khusus tentang anak Mams. Orang yang tepat untuk ditanyai pertanyaan spesifiknya adalah tenaga kesehatan di Puskesmas dan dokter Mams sendiri.

Pertanyaan Umum

Ke mana dulu kalau curiga anak mengalami keterlambatan tumbuh kembang?+
Mulai dari ceklis perkembangan di Buku KIA, lalu kader di Posyandu bulanan. Kalau ada isian di daftar sesuai usia yang terjawab Tidak, Kemenkes menyarankan segera memberi tahu kader, dan kader yang akan mengurus bantuan dari tenaga kesehatan di Puskesmas. Jalur itu pintu pertama, dan nggak butuh janji temu maupun surat rujukan.
Apakah perlu rujukan untuk ke klinik tumbuh kembang anak?+
Kliniknya bisa didatangi langsung, tapi hasil yang didapat sering kali lebih kecil daripada biayanya. Klinik bekerja dari kecurigaan yang spesifik, bukan rasa khawatir yang umum, dan petunjuk teknis Kementerian Kesehatan untuk layanan primer menempatkan hasil skrining yang meragukan atau menyimpang sebagai dasar rujukan ke fasilitas yang lebih tinggi. Skriningnya dulu.
Skrining KPSP di Puskesmas sebenarnya memberi tahu apa?+
Apakah perkembangan anak sudah sesuai umurnya, dengan istilah pedomannya sendiri yaitu meragukan dan menyimpang. Hasilnya adalah hasil skrining, bukan diagnosis, jadi tidak menjelaskan penyebab, tidak menyebut nama kondisi, dan bukan pengganti pemeriksaan dokter. Fungsinya membuka rujukan ke langkah berikutnya.
Tanda apa yang bikin Mams sebaiknya nggak menunggu Posyandu berikutnya?+
IDAI menyebut tidak merespons namanya sendiri di 12 bulan, belum ada kata sama sekali di 15 bulan, belum bisa bermain pura-pura di 18 bulan, dan belum ada gabungan dua kata yang berarti di 24 bulan. Terpisah dari itu, hilangnya kemampuan yang tadinya sudah dimiliki adalah tanda bahaya di usia berapa pun. IDAI menyarankan langsung menemui tenaga kesehatan terdekat tanpa menunda.
Wajar nggak kalau anak berjalan lebih lambat dari teman seusianya?+
Sering kali wajar. IDAI menempatkan rentang normal untuk mulai berjalan mulai dari 10 hingga 18 bulan, jadi dua anak seumuran bisa berada di ujung yang berbeda dan keduanya sama-sama biasa saja. Rentang yang lebar itulah alasan catatan bertanggal tentang anak sendiri lebih berharga daripada membandingkan dengan anak orang lain.

Artikel Terkait

Toilet Training Anak Sebelum Masuk TK, dan Apa yang Perlu Ditanyakan ke Sekolah
Manfaat Baby Spa untuk Tumbuh Kembang Bayi
Keterlambatan Bicara pada Anak, Kenali Tanda dan Cara Menanganinya

Temukan Aktivitas Anak Terbaik

Temukan, bandingkan, dan pesan aktivitas terbaik untuk anak Anda di 100+ kota di Indonesia.

Unduh Aplikasi