Anak Pemalu? Ini Manfaat Public Speaking Sejak Dini & Cara Melatihnya Tanpa Paksaan
Sekitar 15% anak punya sifat pemalu bawaan yang disebut peneliti sebagai behavioral inhibition. Sekitar 40% di antaranya kemudian mengalami gangguan kecemasan, artinya sebagian besar tidak. Latihan public speaking nggak menghapus rasa malu, dan memaksanya malah bisa membuat sifat tersebut makin melekat. Yang mengubah hasilnya adalah paparan bertahap plus apa yang berhenti dilakukan orang dewasa di sekitarnya.
Rasa malu itu ada angkanya, dan itu bukan diagnosis
Sifat yang biasa Mams sebut pemalu sebenarnya sudah diteliti selama 40 tahun dengan nama lain. Kelompok riset Jerome Kagan menyebutnya behavioral inhibition, yaitu anak yang berhenti bermain, mendekat ke orang tuanya, lalu memperhatikan saat ada hal asing masuk ke ruangan.
Clauss dan Blackford menggabungkan 7 studi tentang hal tersebut di Journal of the American Academy of Child and Adolescent Psychiatry pada 2012. Kalimat rangkuman merekalah yang paling perlu diingat, yaitu 15% dari seluruh anak menunjukkan behavioral inhibition tingkat ekstrem, dan sifat tersebut membawa peningkatan risiko lebih dari 7 kali lipat untuk mengalami gangguan kecemasan sosial.
Kalau dibaca sendirian, data itu bikin orang tua panik lalu buru-buru mendaftarkan anaknya ke kursus. Dibaca berdampingan dengan angka kedua, hasilnya justru jauh lebih berguna.
Dalam Annual Research Review 2023 di Journal of Child Psychology and Psychiatry, Nathan Fox dan rekan-rekannya menuliskannya dengan gamblang. Di antara anak-anak dengan sifat bawaan ini, hanya sekitar 40% yang kemudian mengalami gangguan kecemasan, artinya lebih dari separuhnya tidak.
Jadi sifat bawaan tersebut adalah faktor risiko yang hasil akhirnya masih terbuka. Pertanyaannya bukan apakah anak Mams pemalu, melainkan apa yang terjadi di sekitar rasa malu itu dalam beberapa tahun ke depan.
Apa yang sebenarnya berubah dari latihan public speaking?
Yang berubah adalah rasa takutnya, dan bukti untuk hal tersebut memang nyata walau cakupannya lebih sempit dibanding janji iklannya. Uji gabungan terbesarnya datang dari Ebrahimi dan rekan-rekannya di University of Bergen, terbit di Frontiers in Psychology pada 2019, yang mengumpulkan 30 uji acak terkontrol dengan 1.355 partisipan.
Efek keseluruhan intervensi psikologis terhadap rasa takut berbicara di depan umum tercatat 0,74 pada skala Hedges g, dan saat ditindaklanjuti kemudian angkanya malah naik ke 1,11. Jadi perbaikannya terus bertambah setelah sesi latihannya berhenti.
Ada 2 catatan jujur yang harus ikut menempel pada temuan tersebut. Pertama, semua uji itu dijalankan pada orang dewasa dan remaja, bukan pada anak usia 4 tahun, jadi belum ada yang membuktikan efek yang sama di kelas public speaking untuk anak prasekolah.
Kedua, isi uji cobanya sendiri berupa paparan berulang dan terstruktur terhadap situasi yang ditakuti. Artikel yang sama mencatat tidak ditemukan perbedaan efek antar kerangka teori yang dipakai, jadi yang membawa hasil adalah pelaksanaannya, bukan nama metodenya.
Hal tersebut jadi argumen kuat untuk latihan, tapi argumen lemah untuk kurikulum tertentu. Kelas mingguan tempat anak harus bersuara di depan orang yang bukan keluarganya sudah menjalankan kunci latihan ini, dan begitu juga saat anak berinteraksi dengan penjaga warung, atau saat dia memesan minumannya sendiri.
Kenapa memaksa anak pemalu naik panggung justru bikin makin mundur?
Karena perilaku orang dewasa di sekitar paparan itulah yang menentukan arahnya, dan studi Fox menyebut kedua arah tersebut. Di sisi yang merugikan, studi itu melaporkan bahwa kontrol yang terlalu mengintervensi dan nada mencemooh dari ibu saat berinteraksi dengan anak justru memperkuat kaitan antara behavioral inhibition di usia balita dengan sikap menarik diri secara sosial di masa kanak-kanak awal.
Meledek anak pemalu karena rasa malunya, atau mengambil alih momennya supaya cepat selesai, bukanlah tindakan netral. Hal tersebut termasuk salah satu jalur yang sudah terbukti secara ilmiah mengubah risiko menjadi kenyataan. Di sisi yang melindungi, studi yang sama menemukan anak dengan behavioral inhibition yang ibunya sangat suportif punya risiko lebih rendah untuk memandang sekolah secara negatif.
Ada juga satu detail yang menjelaskan kenapa tampil di sekolah jauh lebih berat dibanding di ruang tamu. Kelompok Fox menemukan penanda saraf yang mereka amati, beserta kaitannya dengan kecemasan, meningkat pada anak dengan behavioral inhibition justru saat mereka berada di antara teman sebaya.
Jadi orang dewasa bukan ancamannya, melainkan anak-anak lain yang sedang menonton. Panggung menempatkan anak pemalu tepat di depan penonton yang paling memicu sistem sarafnya, tanpa jalan keluar dan tanpa tahapan bertahap.
Penelitian yang berhasil tanpa melibatkan anaknya sama sekali
Uji coba paling radikal di literatur ini justru tidak menangani siapa pun selain orang tuanya. Eli Lebowitz dan rekan-rekannya di Yale Child Study Center menjalankan uji acak noninferiority yang terbit di Journal of the American Academy of Child and Adolescent Psychiatry pada 2020, dengan 124 anak yang mengalami gangguan kecemasan.
Satu kelompok mendapat terapi perilaku kognitif standar. Kelompok lainnya mendapat SPACE, yaitu Supportive Parenting for Anxious Childhood Emotions, yang di artikelnya disebut berjalan tanpa kontak langsung sama sekali antara anak dan terapis. Orang tua dilatih untuk berhenti mengakomodasi, artinya berhenti menjawabkan pertanyaan untuk anaknya, berhenti membebaskan anak dari situasi yang dihindarinya, dan berhenti memberi penenangan berulang, sambil tetap terlihat mendukung.
Hasilnya SPACE tidak kalah dibanding terapi pada ukuran kecemasan utama maupun sekunder, dinilai oleh evaluator independen, orang tua, dan anak-anaknya sendiri. Akomodasi keluarga menurun di kedua kelompok, dan penurunannya lebih besar di kelompok orang tua.
Terjemahan praktisnya terasa nggak enak sekaligus melegakan. Menjawab pertanyaan pelayan untuk anak, memberi tahu saudara bahwa dia pemalu supaya dia nggak perlu menyahut, membiarkannya absen lagi dari pesta ulang tahun, semua itu adalah mekanismenya, bukan bentuk kebaikan. Studi Fox menautkan hal yang sama dari arah berbeda, yaitu perilaku orang tua yang terlalu memanjakan, yang berdekatan dengan akomodasi, memperkuat jalur dari sifat pemalu bawaan menuju kecemasan sosial yang lebih besar.
Sebenarnya anak harus bisa bicara apa, dan di usia berapa?
Sebelum memutuskan anak tertinggal, ada baiknya Mams tahu dulu patokannya seperti apa, karena patokan itu lebih rendah dan lebih lambat dibanding bayangan kebanyakan orang tua. American Speech-Language-Hearing Association mencatat untuk anak usia 2 sampai 3 tahun, kemampuan menarik perhatian dengan bilang lihat aku, memberi alasan untuk suatu hal atau kejadian, serta bertanya kenapa dan bagaimana.
Lembaga tersebut juga mencatat hal yang sering disalahartikan sebagai pemalu, yaitu di usia ini bicaranya memang makin jelas tapi belum tentu bisa dimengerti pendengar asing atau orang yang belum mengenal anaknya. Jadi balita yang cerewet di rumah lalu membeku di depan orang asing bisa jadi cuma sudah belajar bahwa orang asing nggak paham omongannya.
Kemampuan bercerita, yang jadi bahan mentah semua presentasi, baru masuk tahapan usia 4 sampai 5 tahun. ASHA menggambarkannya sebagai memasukkan tokoh utama, latar tempat, dan kata sambung untuk menghubungkan informasi, lalu mencatat bicara yang sudah bisa dimengerti dalam percakapan di tahap yang sama.
Kurikulum Indonesia sendiri sependapat. Panduan guru Kemendikbudristek Pembelajaran untuk Fase Fondasi meminta anak diajak untuk mengenali dan memahami berbagai informasi, mengomunikasikan perasaan dan pikiran secara lisan, tulisan, dan menggunakan berbagai media. Elemen Jati Diri di dalamnya menempatkan anak percaya diri berdampingan dengan kemampuan beradaptasi pada lingkungan dan aturan, bukan sebagai keterampilan tampil di depan orang.
Bagian yang jarang sampai ke telinga orang tua justru klausul tenggat waktunya. Panduan yang sama menyatakan Capaian Pembelajaran adalah tujuan besar yang diharapkan tercapai di akhir layanan PAUD, tetapi tetap dapat terus dibangun hingga SD atau MI kelas fase A jika anak belum mencapainya.
Jadi kurikulumnya sendiri sudah menyediakan waktu tambahan yang seolah-olah nggak ada kalau Mams cuma membaca brosur kursus. Begitu pun saat sudah masuk tahap mempresentasikan, tuntutannya tetap sederhana.
Materi resmi Bahasa Indonesia Fase A untuk kelas awal SD menempatkannya di bawah elemen Berbicara dan Mempresentasikan sebagai berbicara dengan santun tentang beragam topik yang dikenali menggunakan volume dan intonasi yang tepat sesuai konteks, serta merespons dengan bertanya tentang sesuatu, menjawab, dan menanggapi komentar orang lain dalam suatu percakapan. Jadi yang diminta cuma volume, intonasi, dan kemampuan menjawab guru, bukan pidato di atas panggung.
Latihan yang berhasil bentuknya obrolan, bukan pertunjukan
Kalau mekanismenya adalah paparan dan risikonya adalah tekanan, latihan yang cocok untuk anak pemalu bentuknya kecil, sering, dan dua arah. Ada bukti langsung untuk bagian dua arahnya. Rachel Romeo dan rekan-rekannya dari MIT dan Harvard, menulis di Psychological Science pada 2018, merekam bahasa sehari-hari di rumah dari 36 anak usia 4 sampai 6 tahun.
Anak yang mengalami lebih banyak giliran bicara bolak-balik dengan orang dewasa, terlepas dari penghasilan keluarga, IQ, dan banyaknya kata yang diucapkan orang dewasa, menunjukkan aktivasi lebih besar di area Broca, dan hal tersebut secara statistik menjelaskan kaitan antara paparan bahasa mereka dengan kemampuan verbalnya. Jadi yang berpengaruh adalah gilirannya, bukan volume omongannya, dan yang penting anak dijawab, bukan dicerocosi.
Bentuk nyatanya dalam seminggu bisa sesederhana ini. Biarkan anak memesan sendiri di warung saat Mams berdiri di sampingnya tanpa bersuara, lalu minta dia bertanya ke satpam di mana letak liftnya.
Saat makan malam, ajukan satu pertanyaan terbuka masing-masing lalu tunggu diamnya tanpa buru-buru mengisi. Telepon kakek atau neneknya dan serahkan gagangnya untuk dua kalimat yang sudah disepakati sebelumnya.
Kelas kelompok mingguan adalah versi yang sama dengan tambahan teman sebaya, dan itulah versi yang lebih berat sekaligus lebih berharga. Kelas drama, musik, bercerita, dan olahraga sama-sama menuntut anak berbicara ke anak lain, yang justru penonton paling sulit menurut risetnya.
Mams bisa lihat dulu yang jalan di dekat rumah di daftar aktivitas anak di Jakarta, atau khusus di kelas musik dan tari, tempat anak pemalu dapat kelompok untuk bersembunyi dulu sebelum diminta berdiri sendirian. Kalau providernya menawarkan trial class gratis, booking dulu yang itu daripada langsung satu periode penuh, supaya kalau nggak cocok cuma rugi satu sore.
Ada satu aturan yang berlaku di semuanya, yaitu anak berhak tahu apa yang akan terjadi dan berhak punya jalan keluar yang nggak mempermalukannya. Kemampuan menebak apa yang akan terjadi itulah yang membuat satu langkah terasa cukup kecil untuk diambil.
Kapan sifat pemalu tersebut sudah lebih dari sekadar rasa malu biasa?
Ada batasnya, dan yang menentukan adalah konsistensinya, bukan seberapa parah diamnya. Selective mutism, dalam ringkasan kriteria DSM di practice portal ASHA, mensyaratkan durasi diamnya minimal 1 bulan, dan secara khusus bukan yang terbatas pada bulan pertama sekolah. Pengecualian tersebut ada supaya gugup awal semester yang wajar nggak buru-buru dilabeli.
Anaknya bicara lancar di sebagian situasi, paling sering di rumah, dan nggak bicara di situasi lain, paling sering di sekolah. Perkiraannya berkisar antara 0,2% hingga 1,6% dari anak-anak, dengan awal kemunculan di usia 3 sampai 6 tahun dan diagnosis biasanya baru datang saat anak mulai sekolah.
Yang membedakannya dari pemalu bukan tingkatannya, melainkan polanya. Anak pemalu menghangat dalam hitungan minggu, sedangkan anak dengan selective mutism bisa santai dan lancar di rumah lalu benar-benar bisu di kelas selama 1 semester penuh.
Kalau itu yang Mams lihat setelah bulan pertama tahun ajaran, rujukannya ke psikolog atau terapis wicara, bukan ke kursus public speaking. Paparan tanpa dukungan yang tepat malah bisa memperburuk, dan inilah kasus ketika kelas yang direkomendasikan tetangga justru jadi alat yang salah.
Untuk selebihnya, jawaban jujur soal apakah public speaking sejak dini membangun rasa percaya diri begini. Bukan kegiatan bicaranya yang membangun rasa itu, melainkan kemampuan menebak apa yang akan terjadi, adanya orang dewasa yang berhenti menyelamatkan, dan banyaknya giliran kecil yang didapat anak.
Kelas adalah satu cara praktis untuk mendapatkan semua itu dalam satu slot mingguan. Kelas bukanlah satu-satunya cara, dan nggak akan berhasil kalau disampaikan sebagai tekanan.
