Parenting & Perkembangan

Speech Delay pada Anak, dan Kenapa Nanti Juga Bisa Bicara Bukan Jawaban

Sebagian besar late talker memang akhirnya bisa mengejar. Studi jangka panjang menemukan mereka mencapai rentang rata-rata di usia 5, 6, atau 7 tahun, dan skornya tetap lebih rendah dibanding teman sebaya sampai masa remaja. Jadi pertanyaannya bukan apakah anak akan bicara, melainkan apakah keterlambatannya berdiri sendiri atau menandakan hal lain, dan itu butuh diperiksa.

Speech Delay pada Anak, dan Kenapa Nanti Juga Bisa Bicara Bukan Jawaban

Dokter anak di Indonesia sudah punya angkanya

IDAI menempatkan angkanya di 5% sampai 8% anak usia prasekolah, dan artikelnya tentang keterlambatan bicara justru dibuka dengan kalimat yang memang sering diucapkan orang tua, yaitu Ah, tidak apa-apa, nanti juga bisa bicara. Kalimat itulah yang disebut IDAI sebagai alasan anak dengan gangguan bicara dan bahasa terlambat sampai ke dokter.

Untuk Jakarta, IDAI justru lebih berhati-hati, dan sikap hati-hati ini layak ditiru. Ditulis di sana bahwa angka resmi untuk gangguan ini belum ada dan angka kotanya diperkirakan 21%, yang jelas berbeda jenisnya dengan rentang prevalensi tadi dan memang harus dibaca begitu.

Milestone yang jadi dasar angka-angka tersebut sebenarnya biasa saja. Di usia 12 bulan bayi sudah mengerti sekitar 70 kata, di usia 15 bulan mungkin baru bisa mengucapkan 3 sampai 6 kata bermakna, dan di usia 18 bulan kosakatanya sudah berada di antara 5 dan 50 kata.

Yang sering diremehkan justru soal kejelasan bicaranya. Di usia 2 tahun sekitar 50% ucapan anak bisa dimengerti orang di luar keluarga, dan baru di usia 4 tahun IDAI mengharapkan bicaranya sepenuhnya dimengerti orang lain.

Benarkah nanti juga bisa bicara sendiri?

Sebagian besar memang begitu, dan di titik itulah kebanyakan orang berhenti membaca. Studi Rescorla tentang late talker di Developmental Disabilities Research Reviews melaporkan bahwa sebagian besar late talker mencapai skor bahasa di rentang rata-rata pada usia 5, 6, atau 7 tahun.

Studi yang sama memuat satu kalimat yang mengubah keputusan orang tua. Kelompok late talker umumnya tetap memperoleh skor yang secara bermakna lebih rendah dibanding kelompok dengan riwayat bahasa tipikal, pada hampir semua ukuran bahasa, sampai masa remaja.

Pemantauan terpanjang yang ia lakukan bikin gambaran tersebut makin konkret. Penelitian itu membandingkan 26 anak yang teridentifikasi sebagai late talker, semuanya dengan kemampuan nonverbal normal dan bahasa reseptif normal di awal, dengan 23 anak berkembang tipikal yang disamakan usia, status sosial ekonomi, dan kemampuan nonverbalnya, lalu di usia 17 tahun semuanya berada di rentang rata-rata sedangkan kelompok late talker tetap lebih rendah pada Vocabulary dan Grammar serta pada Verbal Memory.

Jadi mengejar ketertinggalan itu nyata, dan itu bukan hal yang sama dengan tidak terpengaruh sama sekali. Jarak inilah yang membuat pertanyaan yang berguna adalah keterlambatan jenis apa ini, bukan berapa bulan lagi yang perlu ditunggu.

Daftar milestone ditulis ulang supaya orang tua berhenti menunggu

Pada 2022 program Learn the Signs. Act Early. milik CDC bersama American Academy of Pediatrics menerbitkan revisi daftar milestone pemantauan perkembangan di jurnal Pediatrics, dan kelompok kerjanya menuliskan alasannya di dalam artikel tersebut. Salah satu tujuan yang dinyatakan adalah memperjelas kapan sebagian besar anak diperkirakan mencapai sebuah milestone, supaya pendekatan tunggu dan lihat saja tidak lagi dipakai.

Mekanismenya berupa perubahan ambang, bukan daftar keterampilan baru. Sebuah milestone sekarang harus berupa hal yang sebagian besar anak, artinya 75% atau lebih, diperkirakan sudah bisa melakukannya pada kunjungan pemeriksaan kesehatan tertentu, bukan usia saat anak rata-rata mencapainya.

Perubahan tersebut jauh lebih besar daripada kedengarannya. Penambahan milestone untuk kunjungan usia 15 dan 30 bulan berikut penerapan kriteria baru menghasilkan pengurangan 26,4% dan penggantian 40,9% dari daftar sebelumnya, dan di antara milestone yang dipertahankan lalu dipindahkan, 67,7% bergeser ke usia yang lebih tua.

Angka terakhir tersebut perlu dibaca jujur, karena efeknya dua arah. Ada hal yang memang wajar terjadi lebih lambat dibanding kesan daftar lama, dan daftar yang sekarang dipegang orang tua adalah daftar yang sebagian besar anak sudah melewatinya, jadi belum sampai di situ adalah alasan untuk bertanya, bukan alasan untuk menunggu.

Tanda apa saja yang harus dibawa ke dokter, dan di usia berapa?

IDAI menerbitkan dua daftar, dan keduanya saling melengkapi dengan cara yang berguna. Daftar yang lebih pendek, di artikelnya tentang keterlambatan bicara, menandai tidak adanya babbling dan tidak menoleh saat dipanggil namanya di bulan-bulan awal, tidak menunjuk dengan jari di usia 12 bulan, tidak ada kata bermakna di usia 16 bulan, dan tidak ada kalimat 2 kata yang bisa dimengerti di usia 24 bulan.

Daftar yang lebih panjang, ditulis Dr. Catharine M Sambo, menambahkan hal-hal yang sering terlewat. Tidak bersuara sama sekali sampai usia 6 bulan, tidak mengoceh sampai usia 12 bulan, tidak ada satu kata pun yang bukan ocehan atau tiruan ucapan orang lain di usia 16 bulan, tidak mampu menunjuk untuk memperlihatkan ketertarikan pada benda di usia 20 bulan, kurang mampu berbagi perhatian di usia 20 bulan, tidak mampu membuat frasa bermakna setelah usia 24 bulan, orang tua masih tidak mengerti perkataan anak di usia 30 bulan, sering mengulang ucapan orang di usia 30 bulan, respons yang tidak konsisten terhadap suara, dan hilangnya kemampuan bicara yang sebelumnya sudah dikuasai.

Ada satu poin yang berada di luar grid usia sama sekali. IDAI menulis bahwa pada usia berapa pun anak perlu dibawa ke dokter kalau ada kemunduran, yaitu kemampuan bicara atau kemampuan sosialnya berbalik mundur, dan poin ini nggak menunggu ulang tahun berikutnya.

Di mana anak bisa diperiksa perkembangannya di Indonesia?

Di posyandu atau puskesmas, gratis, dengan jadwal yang sebenarnya sudah tersedia. Programnya bernama SDIDTK, dan Dinas Kesehatan Kota Semarang menjabarkannya sebagai tiga pilar, yaitu stimulasi dini untuk anak sejak lahir sampai usia 72 bulan, deteksi dini sebagai skrining yang menemukan penyimpangan lebih awal, dan intervensi dini sebagai tindakan koreksi yang menyusul.

Alat skriningnya adalah KPSP, Kuesioner Pra Skrining Perkembangan, dan pemeriksaannya berjalan di 16 usia tetap. Usia-usia tersebut adalah 3, 6, 9, 12, 15, 18, 21, 24, 30, 36, 42, 48, 54, 60, 66, dan 72 bulan, yang artinya selalu ada titik pemeriksaan berjarak tidak lebih dari 6 bulan dari usia anak Mams sekarang.

IDAI sendiri tegas soal kelompok yang paling kecil. Orangtua perlu membawa anaknya ke Puskesmas untuk pemeriksaan skrining, terutama untuk anak usia dibawah 2 tahun, begitu tulisnya, dan kalimat itu muncul di artikel tentang dampak jangka panjang, bukan di selebaran soal kunjungan rutin.

Ada juga alasan dari sisi penelitian untuk rentang usia yang sama. Rescorla mencatat bahwa skrining bahasa ekspresif di usia 18 sampai 35 bulan punya fungsi kesehatan masyarakat, karena skrining itu menjaring anak yang keterlambatan ekspresifnya merupakan turunan dari gangguan spektrum autisme, disabilitas intelektual, gangguan pendengaran, keterlambatan bahasa reseptif, atau risiko demografis.

Apakah masuk playgroup bisa menyelesaikannya?

Nggak, kalau itu berdiri sendiri, dan IDAI mengatakannya melalui satu kalimat yang layak dikutip meski berlawanan dengan kepentingan kami. Penanganan sebaiknya dikonsultasikan dulu ke dokter tumbuh kembang anak, bukan hanya terbatas pada menyekolahkan anak saja.

Alasannya, keterlambatan bicara adalah gejala yang di bawahnya bisa ada beberapa penyebab berbeda. IDAI menyebut gangguan pendengaran, gangguan pada otak termasuk gangguan bahasa spesifik reseptif maupun ekspresif, autisme, dan gangguan pada organ mulut yang memproduksi suara, lalu menegaskan bahwa memastikan penyebab mana yang berlaku butuh pemeriksaan teliti yang kadang menuntut dokter anak, dokter THT, dan psikolog atau psikiater anak bekerja bersama.

Playgroup nggak menangani satu pun dari penyebab tersebut, dan gangguan pendengaran yang tidak terdeteksi justru makin mahal ongkosnya kalau dibiarkan lama. Yang benar-benar diberikan sebuah lingkungan berkelompok, entah itu playgroup atau pusat pendidikan anak usia dini, adalah lebih banyak ajakan bicara yang tertuju ke anak dan lebih banyak alasan untuk memakai kata, dan itu berharga tapi bukan pengganti jadwal periksa.

Kalau pencarian yang membawa Mams ke sini sebenarnya soal dugaan gangguan perkembangan dan bukan soal enrichment, kategori terapi dan tumbuh kembang adalah tempat penyedia layanan seperti itu berada. Urutan yang membantu adalah evaluasi dulu baru booking, karena terapis bekerja berangkat dari diagnosis, bukan menuju ke sana.

Yang bisa dilakukan di rumah sambil menunggu jadwal periksa

Lebih banyak ngobrol, dan perlu diketahui bahwa inilah intervensi yang ada bukti pendukungnya, bukan sekadar nasihat turun-temurun. Roberts dan Kaiser menggabungkan 18 studi tentang intervensi bahasa yang dijalankan orang tua untuk anak usia 18 sampai 60 bulan di American Journal of Speech-Language Pathology, lalu melaporkan dampak positif yang bermakna pada bahasa reseptif maupun ekspresif, baik pada anak dengan maupun tanpa disabilitas intelektual.

Versi IDAI untuk saran yang sama berupa daftar hal-hal yang biasa saja. Membaca dengan suara jelas, mengajak bayi dan anak bercakap-cakap, memberi respon terhadap ocehan bayi dengan kata-kata sederhana, menjawab pertanyaan, dan bernyanyi.

Satu kalimat di artikel tersebut pantas ditempel di kulkas. Gawai dan televisi bukan metode stimulasi yang baik, begitu IDAI menyatakannya terang-terangan, sebanyak apa pun bahasa yang keluar dari layar itu.

Semua ini nggak menggantikan pemeriksaan anak, dan memang bukan untuk itu. Bagian ini yang mengisi minggu-minggu antara Mama Papa memutuskan ada yang tidak beres dan mendapatkan pendapat profesional, dan hal yang sama juga yang nantinya akan dilatihkan seorang terapis.

Apa yang terjadi setelah keterlambatannya tertutup?

Pemantauannya diteruskan, lebih lama daripada yang terasa perlu. IDAI melaporkan bahwa dari gangguan bicara dan bahasa yang teridentifikasi di usia 5 tahun, 72% masih ada di usia 12 tahun, dan angka itulah yang membantah anggapan bahwa selesainya terapi berarti selesainya cerita.

Yang perlu dipantau bersifat spesifik, bukan samar-samar. IDAI menyebut prestasi akademik, terutama yang berkaitan dengan membaca, menulis, dan memahami kalimat, berikut perkembangan emosi, perilaku, dan hubungan anak dengan teman sebayanya.

Ini juga alasan penelitian menyebut keterlambatan bahasa bersifat dimensional, bukan hitam putih. Kerangka yang dipakai Rescorla adalah late talker dan anak berkembang tipikal berbeda secara kuantitatif di sepanjang spektrum kemampuan bahasa, dan model tersebut lebih bisa dipakai orang tua dibanding sebuah garis yang cuma soal terlewati atau tidak.

Langkah yang bisa dimulai minggu ini

Versi singkatnya, ada 3 hal yang layak dikerjakan dan nggak satu pun butuh biaya. Cocokkan usia anak dengan tanda waspada IDAI di atas, cek apakah usianya sedang dekat dengan salah satu dari 16 jadwal KPSP, lalu daftarkan pemeriksaan di posyandu atau puskesmas alih-alih menunggu ulang tahun berikutnya.

Kalau ada tanda waspada, mintalah rujukan dan bukan kalimat penenang, dan ingat bahwa hilangnya kemampuan yang sudah dikuasai di usia berapa pun langsung memotong antrean. Di antara semua itu isinya adalah mengobrol, membaca, dan bernyanyi, dengan layar dimatikan.

Enrichment adalah keputusan terpisah dan tetap masuk akal dengan pertimbangannya sendiri. Mama Papa bisa melihat apa saja yang sedang berjalan di dekat rumah melalui daftar aktivitas Jakarta, dan sebagian penyedia di sana menawarkan trial class gratis supaya satu sesi bisa dilihat dulu sebelum memutuskan, sedangkan panduan kami soal milestone perkembangan anak membahas ranah yang tidak dibahas artikel ini.

Satu hal yang perlu jelas, karena di topik ini lebih penting daripada biasanya. Happy Kamper adalah direktori dengan review dan booking, bukan rekam medis, jadi kami tidak menyimpan hasil asesmen, catatan terapi, maupun rencana penanganan, dan tercantum di sini bukan berarti kredensial terapi seseorang sudah diverifikasi.

Pertanyaan Umum

Anak 2 tahun belum bisa bicara, apakah masih normal?+
IDAI memperlakukannya sebagai tanda waspada, bukan sekadar variasi. Tanda waspada untuk usia ini adalah tidak adanya kalimat 2 kata yang bisa dimengerti di usia 24 bulan, dan IDAI menempatkan keterlambatan bicara dan bahasa di 5% sampai 8% anak usia prasekolah. Di usia 2 tahun sekitar 50% ucapan anak semestinya sudah bisa dimengerti orang di luar keluarga.
Apakah late talker bisa mengejar dengan sendirinya?+
Sebagian besar bisa, dan penelitiannya menambahkan bagian kedua pada jawaban itu. Rescorla melaporkan sebagian besar late talker mencapai rentang rata-rata di usia 5, 6, atau 7 tahun, tetapi kelompok late talker tetap memperoleh skor yang secara bermakna lebih rendah dibanding teman dengan riwayat bahasa tipikal pada hampir semua ukuran bahasa sampai masa remaja. Pada pemantauan di usia 17 tahun, mereka ada di rentang rata-rata dan tetap lebih rendah pada Vocabulary dan Grammar.
Di usia berapa keterlambatan bicara mulai perlu dikhawatirkan?+
Penanda IDAI adalah tidak bersuara sama sekali sampai usia 6 bulan, tidak mengoceh sampai usia 12 bulan, tidak ada kata bermakna di usia 16 bulan, tidak menunjuk untuk memperlihatkan ketertarikan di usia 20 bulan, tidak ada kalimat 2 kata yang bisa dimengerti di usia 24 bulan, dan orang tua masih tidak mengerti perkataan anak di usia 30 bulan. Terpisah dari itu, hilangnya kemampuan bicara atau kemampuan sosial yang sudah dikuasai adalah alasan ke dokter di usia berapa pun.
Di mana perkembangan anak bisa diperiksa gratis di Indonesia?+
Di posyandu atau puskesmas, melalui program SDIDTK, memakai kuesioner KPSP. Pemeriksaannya berjalan di 16 usia tetap, yaitu 3, 6, 9, 12, 15, 18, 21, 24, 30, 36, 42, 48, 54, 60, 66, dan 72 bulan. IDAI secara khusus meminta orang tua anak di bawah 2 tahun membawa anaknya untuk skrining ini.
Apakah memasukkan anak ke playgroup bisa membantu dia bicara?+
Bukan sebagai penanganannya. IDAI menulis bahwa penanganan sebaiknya dikonsultasikan dulu ke dokter tumbuh kembang anak dan tidak terbatas pada menyekolahkan anak saja, karena keterlambatan bicara bisa berdiri di atas gangguan pendengaran, autisme, gangguan bahasa spesifik, atau gangguan pada organ mulut. Lingkungan berkelompok memberi anak lebih banyak ajakan bicara dan lebih banyak alasan memakai kata, yang berguna mendampingi evaluasi, bukan menggantikannya.
Apakah screen time menyebabkan speech delay?+
IDAI tidak membuat klaim sebab akibat seperti itu, dan kami pun tidak. Yang IDAI nyatakan adalah gawai dan televisi bukan metode stimulasi yang baik, artinya layar tidak dihitung sebagai stimulasi. Kegiatan yang dihitung adalah membaca dengan suara jelas, bercakap-cakap, merespons ocehan bayi dengan kata sederhana, menjawab pertanyaan, dan bernyanyi.

Artikel Terkait

Anak Pemalu? Ini Manfaat Public Speaking Sejak Dini & Cara Melatihnya Tanpa Paksaan
Ide Kegiatan Anak Saat Bosan di Rumah, dan Kenapa Mainan yang Lebih Sedikit Justru Lebih Ampuh
Biar Nggak Dianggap Cuma Main Game, Ini yang Sebenarnya Diajarkan di Les Coding Roblox Studio

Temukan Aktivitas Anak Terbaik

Temukan, bandingkan, dan pesan aktivitas terbaik untuk anak Anda di 100+ kota di Indonesia.

Unduh Aplikasi