Parenting & Perkembangan

Ide Kegiatan Anak Saat Bosan di Rumah, dan Kenapa Mainan yang Lebih Sedikit Justru Lebih Ampuh

Kurangi, jangan tambah. Dalam studi University of Toledo, 36 balita bermain lebih lama dan lebih kreatif dengan 4 mainan dibanding dengan tumpukan mainan. Rasa bosan sendiri terbukti menaikkan kreativitas di percobaan University of Central Lancashire. Jadi rapikan lantai, sisakan satu dua benda, lalu tunggu sebelum ikut campur.

Ide Kegiatan Anak Saat Bosan di Rumah, dan Kenapa Mainan yang Lebih Sedikit Justru Lebih Ampuh

Kenapa rasa bosan sebaiknya dibiarkan dulu?

Peneliti di University of Central Lancashire menjalankan dua percobaan untuk melihat apa yang dilakukan rasa bosan terhadap cara berpikir kreatif. Di percobaan pertama, 80 partisipan dibagi dua, ada yang harus melewati kegiatan menulis yang sengaja dibuat membosankan, dan ada yang langsung mengerjakan tugas kreatif. Percobaan kedua mengulang rancangan yang sama dengan kelompok lebih besar dan jenis kegiatan membosankan yang berbeda.

Hasil yang dimuat di Creativity Research Journal menyebutkan bahwa kegiatan yang membosankan justru meningkatkan kreativitas, dan melamun diidentifikasi sebagai penghubung keduanya. Studi ini dilakukan pada orang dewasa, bukan anak-anak, jadi bacalah sebagai bukti soal mekanismenya, bukan sebagai instruksi pengasuhan.

Walau begitu, temuannya sejalan dengan yang disampaikan American Academy of Pediatrics soal anak yang cuma dibuat sibuk secara pasif. Dalam laporan klinis mereka tentang bermain, lembaga ini menulis bahwa anak sering terlihat benar-benar terlibat dan tenggelam dalam permainannya. Aktivitas ini membangun kemampuan fungsi eksekutif dan kesiapan sekolah.

Selain itu, laporan tersebut menambahkan dalam kurung bahwa anak yang bosan tidak akan belajar dengan baik. Jadi kalau digabungkan, ada satu hal yang berguna buat Mams.

Fase datar dan gelisah sebelum anak akhirnya tenggelam dalam permainannya sendiri bukanlah kegagalan. Yang justru jadi masalah adalah anak yang tidak pernah melewati fase itu karena selalu ada orang yang buru-buru mengisi kekosongannya.

Percobaan dengan 4 mainan

Temuan paling konkret soal ini datang dari tim terapi okupasi di University of Toledo. Mereka menempatkan 36 balita di sebuah ruangan yang berisi 4 mainan atau satu set yang jauh lebih banyak, lalu merekam apa yang dilakukan anak-anak itu.

Hasilnya, yang dimuat di jurnal Infant Behavior and Development, dengan mainan yang lebih sedikit anak justru lebih jarang berpindah-pindah permainan, bertahan lebih lama di tiap mainan, dan memainkannya dengan cara yang jauh lebih beragam. Para penulisnya menyimpulkan bahwa ketika mainan di sekitarnya lebih sedikit, balita bermain lebih lama dengan satu mainan sehingga bisa lebih fokus untuk mengeksplorasi dan bermain secara lebih kreatif.

Coba deh bandingkan dengan hari Minggu di rumah pada umumnya. Anak yang dikelilingi semua barang miliknya biasanya cuma menyentuh tiap benda sebentar lalu pindah, dan dari luar hal tersebut kelihatan persis seperti bosan.

Menyimpan sebagian besar mainan bukanlah hukuman buat anak. Justru hal tersebut adalah langkah dengan bukti paling kuat di seluruh artikel ini.

Apa yang sebenarnya dibutuhkan anak yang lagi bosan?

Anak justru butuh arahan yang lebih sedikit dari yang biasanya kita berikan. Laporan American Academy of Pediatrics cukup tegas soal ini. Laporan tersebut menyatakan bahwa instruksi yang terlalu rinci membatasi kreativitas anak, dan anak sebaiknya belajar dengan mengamati serta terlibat aktif, bukan dengan menghafal pasif atau instruksi langsung.

Ini bukan ajakan untuk mendiamkan anak, Mams. Laporan yang sama menjelaskan posisi tengah yang mereka sebut guided play, yaitu permainan yang tetap menyerahkan kendali ke anak sehingga anak yang memulai permainannya, tapi berlangsung di lingkungan yang sudah disiapkan orang dewasa dengan tujuan belajar tertentu, atau di lingkungan ketika orang dewasa melengkapi eksplorasi anak dengan pertanyaan dan komentar yang menuntun secara halus.

Dalam praktiknya, hal tersebut membedakan antara mengatakan “Begini cara menyusun menaranya” dengan bertanya “Kira-kira apa yang terjadi kalau balok paling bawahnya lebih kecil?”. Alasan kenapa hal ini penting jauh melampaui satu sore juga jelas secara perkembangan.

Laporan tersebut menjelaskan bahwa kegiatan bermain memperlancar perpindahan anak dari ketergantungan menuju kemandirian dan dari diatur orang tua menjadi mengatur dirinya sendiri, sekaligus menumbuhkan rasa memegang kendali pada anak. Jadi bermain mandiri bukan waktu istirahat yang Mams curi diam-diam, melainkan justru kemampuan yang sedang dipelajari anak.

Memilih mainan yang tetap dikeluarkan, sesuai usia

IDAI, Ikatan Dokter Anak Indonesia, menerbitkan daftar mainan berdasarkan fase perkembangan dan bukan berdasarkan harga, dan hal tersebut membuatnya jadi panduan belanja yang lebih masuk akal dibanding kebanyakan daftar lain. Untuk enam bulan pertama usia bayi ada kerincingan dan benda berwarna mencolok, lalu boneka, bola, kubus, dan mainan yang bisa dimasukkan kembali sebelum anak berulang tahun pertama.

Masuk usia batita ada buku cerita bergambar, musik, alat gambar yang aman seperti crayon, ditambah permainan yang berpura-pura. Dari sekitar usia 2 tahun muncul puzzle, lego, set konstruksi yang bisa dibongkar pasang, serta permainan pasir atau air, dan di rentang 3 sampai 6 tahun ada puzzle, kubus, dan permainan papan beraturan giliran seperti ular tangga.

Begitu anak masuk usia sekolah, daftarnya berlanjut ke permainan tradisional seperti engklek, congklak, dan layangan. Pakai daftar ini sebagai penyaring, bukan sebagai daftar belanja.

Coba ambil dua atau tiga benda dari fase anak saat ini, taruh di tempat yang bisa dijangkau sendiri, lalu simpan sisanya dalam kotak selama beberapa minggu. Waktu kotaknya dibuka lagi, isinya terasa baru tanpa Mams perlu membeli apa pun, dan di titik inilah temuan 4 mainan tadi berubah jadi rutinitas hari Minggu, bukan cuma studi yang dibaca sekali lalu dilupakan.

Berapa banyak screen time yang masih wajar saat seharian di rumah?

Ada dua batas yang sudah diterbitkan, dan keduanya lebih ketat dari kebiasaan kebanyakan rumah. Panduan World Health Organization untuk anak di bawah 5 tahun menyebut screen time sambil duduk diam sama sekali tidak dianjurkan untuk anak usia 1 tahun, tidak lebih dari 1 jam di usia 2 tahun, dan tidak lebih dari 1 jam untuk anak usia 3 sampai 4 tahun.

Panduan yang sama meminta setidaknya 180 menit aktivitas fisik yang tersebar sepanjang hari mulai usia 1 tahun, dengan sekitar sepertiganya berintensitas sedang sampai tinggi untuk kelompok yang lebih besar. Panduan itu juga mencatat bahwa saat anak sedang duduk diam, membaca dan bercerita bersama pengasuh adalah kegiatan yang dianjurkan.

IDAI menetapkan batasnya di tidak lebih dari 2 jam sehari untuk anak berusia di atas 2 tahun, dan menambahkan aturan penempatan yang gampang dijalankan. Penggunaan komputer dan gadget sebaiknya dilakukan di tengah rumah, misalnya di ruang keluarga atau ruang makan, dan anak jangan dibiarkan menyendiri dengan layar di kamar tidurnya.

IDAI menyatakan bahwa jam-jam di luar layar lebih baik dipakai untuk bergaul dengan teman sebaya atau melakukan aktivitas fisik. Tidak satu pun dari kedua sumber ini menyatakan layar itu haram. Keduanya hanya menegaskan bahwa hari anak punya bentuk tertentu, dan layar yang mengisi tiap celah kosong sudah mengambil ruang tempat bermain mandiri seharusnya dimulai.

Rasa bosan yang sebenarnya tanda buat keluar rumah

Sebagian rasa bosan memang bukan soal mainan. Anak yang sudah melewati semua yang ada di rumah butuh ruang lebih besar atau teman bermain lain, dan hal tersebut urusan mengatur jadwal, bukan urusan mendisiplinkan.

Target aktivitas fisiknya saja sudah sulit dikejar di dalam apartemen Jakarta waktu musim hujan. Kalau Mama Papa lagi cari kegiatan yang lebih terstruktur, activity finder bisa menyaring kelas berdasarkan usia dan area, sedangkan daftar aktivitas gratis memuat sesi yang tidak berbayar, dan itu tempat paling pas untuk menguji apakah minat anak beneran serius.

Kalau yang dicari gambaran soal kesiapan anak dan bukan sekadar apa yang dekat rumah, milestone tracker disusun per tahap perkembangan. Tapi urutannya tetap penting.

Rapikan dulu lantainya, tahan diri saat anak mulai mengeluh, lalu lihat apa yang dia lakukan dengan satu sore yang kosong. Daftarkan kelas untuk minat yang bertahan melewati ujian itu, bukan untuk lima belas menit kegelisahan yang jadi pemicunya.

Pertanyaan Umum

Apa yang sebaiknya dilakukan pertama kali saat anak bilang bosan?+
Kurangi dulu, lalu tunggu. Dalam studi University of Toledo, 36 balita bermain lebih lama dan lebih beragam dengan 4 mainan dibanding dengan set yang lebih banyak. Simpan sebagian besar mainan yang berserakan, sisakan dua atau tiga benda dari fase usia anak, dan beri jeda beberapa menit sebelum Mams menawarkan apa pun.
Apakah anak butuh lebih banyak mainan?+
Buktinya justru menunjukkan sebaliknya. Kesimpulan studi tersebut menyebutkan bahwa dengan mainan yang lebih sedikit di sekitarnya, balita bermain lebih lama dengan satu mainan sehingga bisa lebih fokus mengeksplorasi dan bermain secara lebih kreatif. Merotasi mainan yang sudah ada di rumah memberi hasil yang sama dengan membeli baru.
Apakah layar boleh jadi jawaban buat anak yang bosan?+
Boleh, tapi ada batasnya. Panduan WHO menetapkan screen time sambil duduk diam tidak lebih dari 1 jam sehari untuk anak usia 3 sampai 4 tahun, dan sama sekali tidak menganjurkannya untuk anak usia 1 tahun. IDAI menetapkan tidak lebih dari 2 jam sehari di atas usia 2 tahun, serta meminta gadget dipakai di ruang bersama, bukan di kamar tidur.
Apakah rasa bosan buruk buat anak?+
Rasa bosan sendiri tidak buruk. Dua percobaan yang dimuat di Creativity Research Journal menemukan bahwa kegiatan membosankan justru meningkatkan kreativitas pada tugas berikutnya. Yang diperingatkan American Academy of Pediatrics adalah kondisi anak yang tidak pernah benar-benar terlibat, karena anak yang bosan tidak akan belajar dengan baik.

Artikel Terkait

Speech Delay pada Anak, dan Kenapa Nanti Juga Bisa Bicara Bukan Jawaban
Anak Pemalu? Ini Manfaat Public Speaking Sejak Dini & Cara Melatihnya Tanpa Paksaan
Biar Nggak Dianggap Cuma Main Game, Ini yang Sebenarnya Diajarkan di Les Coding Roblox Studio

Temukan Aktivitas Anak Terbaik

Temukan, bandingkan, dan pesan aktivitas terbaik untuk anak Anda di 100+ kota di Indonesia.

Unduh Aplikasi